Etika Berkomunikasi Lewat Telepon: Jangan Sampai Suara Kita Membuat Orang Ingin Segera Menutupnya

oleh

SUARASMR.NEWS SURABAYA – Berkomunikasi melalui telepon terlihat sederhana. Tinggal menelepon, berbicara, lalu selesai. Namun, tidak semua percakapan melalui telepon meninggalkan kesan yang baik.

Ada orang yang begitu nyaman diajak berbicara hingga waktu terasa singkat. Sebaliknya, ada pula percakapan yang baru berjalan beberapa menit tetapi sudah membuat lawan bicara ingin segera mengakhirinya.

banner 930x110

Persoalannya bukan selalu pada topik pembicaraan. Sering kali, masalahnya terletak pada cara kita berkomunikasi.

Etika bertelepon bukan sekadar berbicara dengan sopan. Lebih dari itu, kita perlu memahami bahwa di seberang telepon ada seseorang yang juga memiliki waktu, suasana hati, kesibukan, dan batas kesabarannya.

1. Jangan langsung berbicara panjang : Ketika seseorang mengangkat telepon, jangan langsung menumpahkan semua cerita. Awali dengan salam, tanyakan kabarnya, kemudian pastikan apakah ia sedang memiliki waktu untuk berbicara.

Kalimat sederhana seperti, “Apakah sedang ada waktu? Saya ingin ngobrol sebentar,” menunjukkan bahwa kita menghargai waktunya.

2. Jangan menjadikan telepon sebagai monolog : Percakapan yang menyenangkan selalu memiliki ruang untuk dua orang. Jangan terus berbicara tanpa memberi kesempatan lawan bicara menyampaikan pendapat. Sesekali berhenti dan dengarkan.

Orang tidak selalu membutuhkan seseorang yang pandai berbicara. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

3. Hindari mengulang cerita yang sama : Cerita yang sama mungkin menarik ketika pertama kali disampaikan. Tetapi jika terus diulang, percakapan bisa terasa melelahkan. Apalagi jika lawan bicara sudah memberikan respons yang sama berkali-kali.

Komunikasi yang baik bukan tentang seberapa banyak yang kita bicarakan, melainkan seberapa nyaman orang lain berada dalam percakapan tersebut.

4. Jangan mendominasi pembicaraan : Ada kebiasaan yang sering tidak disadari, setiap kali lawan bicara mulai bercerita, kita justru memotong dengan pengalaman pribadi.

Baca Juga :  Kemkominfo Ungkap Operasi Disinformasi Terorganisir di Media Sosial

Ia berkata, “Hari ini saya capek.”

Kita menjawab, “Saya juga lebih capek.”

Akhirnya, percakapan berubah menjadi perlombaan tentang siapa yang paling lelah. Cobalah sesekali cukup menjawab, “Kenapa? Cerita saja, saya dengarkan.” Kalimat sederhana itu justru bisa membuat seseorang merasa dihargai.

5. Peka terhadap tanda-tanda ingin mengakhiri percakapan : Jawaban semakin pendek, jeda semakin panjang, terdengar mengantuk, atau lawan bicara mengatakan sedang ada pekerjaan adalah tanda yang sebaiknya dihormati.

Jangan memaksakan percakapan hanya karena kita masih ingin berbicara. Mengetahui kapan harus berhenti juga merupakan bagian dari etika.

6. Jangan menelepon berulang kali tanpa alasan penting : Telepon berkali-kali ketika seseorang belum menjawab bisa membuatnya merasa tertekan.

Jika tidak mendesak, cukup tinggalkan pesan singkat. Berikan ruang agar ia dapat menghubungi kembali ketika sudah memiliki waktu. Kedekatan bukan berarti seseorang kehilangan hak atas ruang pribadinya.

7. Hindari menjadikan telepon sebagai tempat melampiaskan emosi : Ketika sedang marah, kecewa, atau banyak pikiran, kita memang membutuhkan tempat bercerita. Namun, jangan sampai lawan bicara dijadikan sasaran pelampiasan.

Jika emosi sedang tinggi, lebih baik menenangkan diri terlebih dahulu. Sebab, kata-kata yang keluar ketika emosi sering kali meninggalkan luka yang sulit ditarik kembali.

8. Akhiri percakapan dengan baik : Tidak perlu menunggu sampai lawan bicara terlihat bosan. Jika pembicaraan sudah selesai, tutuplah dengan kalimat yang hangat. “Terima kasih sudah meluangkan waktu. Istirahat ya, semoga semuanya dimudahkan.”

Percakapan yang baik tidak harus panjang. Yang penting, setelah telepon berakhir, tidak ada pihak yang merasa waktunya terbuang. Pada akhirnya, bukan lamanya telepon yang penting kedua nya merasa nyaman.

Komunikasi yang baik bukan tentang berbicara berjam-jam. Kadang percakapan 5 hingga 15 menit yang penuh perhatian jauh lebih berarti daripada satu jam berbicara tanpa arah.

Baca Juga :  Surat Terbuka Untuk Yang Mulia Presiden Prabowo Subianto 

Jangan berusaha menjadi orang yang paling banyak bicara. Jadilah orang yang membuat lawan bicara merasa nyaman untuk tetap berbicara.

Karena dalam sebuah percakapan, yang paling diingat bukan hanya apa yang kita katakan, tetapi bagaimana perasaan seseorang setelah berbicara dengan kita. (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *