SUARASMR.NEWS – Lonjakan temuan kasus tuberkulosis (TBC) di Indonesia hingga menyentuh angka jutaan justru memunculkan sudut pandang tak terduga dari para pakar.
Alih-alih menjadi alarm kepanikan, angka tinggi ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa sistem deteksi dini di Tanah Air mulai bekerja secara efektif dan menyentuh lapisan masyarakat yang selama ini tersembunyi.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Arief Riadi Arifin, menegaskan bahwa peningkatan angka kasus bukan berarti wabah semakin tak terkendali. Sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa upaya skrining aktif dan pelacakan (tracing) yang masif mulai membuahkan hasil nyata.
“Karena kita sekarang banyak melakukan tracing, maka kasus yang sebelumnya tidak terlihat kini mulai muncul ke permukaan,” ujar Arief dalam kegiatan Cek Kesehatan Gratis dan Skrining TBC di Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (24/4/2026).
Ia menggambarkan fenomena ini layaknya gunung es. Selama ini, sebagian besar penderita TBC berada “di bawah permukaan” dan tidak terdeteksi. Kini, dengan semakin agresifnya skrining, lapisan tersembunyi tersebut mulai terungkap memberi peluang besar untuk penanganan lebih cepat dan tepat.
Menurut Arief, menemukan pasien sejak dini justru menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan. Dengan diagnosis yang lebih cepat, pengobatan dapat segera diberikan sebelum kondisi pasien memburuk atau berkembang menjadi komplikasi serius.
Pandangan serupa juga disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PP PAPDI), Eka Ginanjar. Ia menilai tingginya angka temuan kasus merupakan “data emas” yang selama ini sulit didapatkan secara akurat.
“Jangan takut dengan angka yang tinggi. Justru angka itu adalah gambaran riil yang bisa kita intervensi. Daripada kita diam, seolah tidak ada masalah, padahal kasusnya banyak,” tegasnya.
Eka menambahkan, dengan data yang semakin terbuka, pemerintah dan tenaga medis kini memiliki pijakan kuat untuk menyusun strategi penanganan yang lebih terarah. Mulai dari pencegahan di lingkungan keluarga, tempat kerja, hingga komunitas, semua dapat dilakukan secara lebih terukur dan efektif.
Lonjakan temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa TBC masih menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Namun, di balik angka yang terlihat “menakutkan”, tersimpan harapan besar: semakin banyak kasus yang ditemukan, semakin banyak pula nyawa yang bisa diselamatkan.
Dengan skrining aktif yang terus digencarkan, para pakar optimistis Indonesia dapat mempercepat langkah menuju pengendalian TBC. Bukan dengan menutup mata terhadap angka, melainkan dengan berani mengungkap, menghadapi, dan menanganinya secara nyata. (red/ria)











