Alarm Psikolog Jelang Sekolah Dibuka: Orang Tua Diminta “Bangunkan” Mental Anak dari Euforia Liburan

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Menjelang berakhirnya masa liburan, para orang tua diingatkan untuk tidak lengah. Euforia liburan yang berkepanjangan bisa menjadi bom waktu bagi kesiapan mental anak saat kembali ke bangku sekolah.

Psikolog klinis Devi Yanti, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa transisi dari suasana bebas liburan menuju rutinitas sekolah membutuhkan perhatian serius dari orang tua. Jika diabaikan, anak berpotensi mengalami penolakan emosional, kecemasan, hingga kehilangan motivasi belajar.

banner 719x1003

“Orang tua perlu peka terhadap kondisi emosi anak. Rasa malas, cemas, bahkan enggan kembali ke sekolah adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan,” ujar Devi, psikolog yang bertugas di Rumah Sakit Jiwa Aceh, saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Sabtu.

Sebagai Bendahara Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Aceh, Devi menekankan pentingnya komunikasi dua arah. Orang tua diminta tidak hanya memberi nasihat, tetapi juga benar-benar mendengarkan keluh kesah, kekhawatiran, dan harapan anak menjelang hari pertama sekolah.

Ia menyarankan orang tua menanamkan kembali citra positif tentang sekolah, mulai dari pelajaran favorit hingga momen menyenangkan bersama teman-teman. “Sekolah jangan digambarkan sebagai beban, tetapi sebagai ruang tumbuh dan bertemu kembali dengan hal-hal yang mereka sukai,” katanya.

Tak kalah penting, Devi mengingatkan agar orang tua mulai menata ulang ritme hidup anak beberapa hari sebelum sekolah dimulai. Pola tidur dan makan yang berantakan selama liburan perlu dikembalikan ke jalur normal agar anak tidak mengalami ‘culture shock’ saat sekolah dimulai.

Lebih jauh, ia mendorong keterlibatan aktif anak dalam mempersiapkan perlengkapan sekolah, mulai dari seragam, alat tulis, hingga penyusunan jadwal harian. Langkah sederhana ini dinilai mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus kesiapan mental.

banner 484x341

“Konsistensi rutinitas yang dibarengi dukungan emosional dan suasana rumah yang hangat akan membuat anak beradaptasi kembali dengan lebih nyaman,” tegasnya.

Baca Juga :  Memahami Hak dan Kewajiban dalam Dunia Perpajakan: Langkah Menghadapi Sengketa dengan Fiskus

Di era digital, Devi juga mengingatkan bahaya laten penggunaan gawai yang berlebihan. Orang tua diminta menerapkan aturan yang jelas dan konsisten terkait durasi penggunaan gawai, berdasarkan kesepakatan bersama anak.

Namun, pembatasan saja tidak cukup. Ia menyarankan orang tua menghadirkan alternatif aktivitas menyenangkan agar anak tidak merasa ‘kehilangan dunia’-nya.

“Membuat jadwal harian bersama, berbagi cerita tentang pengalaman sekolah, membaca buku, memasak, atau berolahraga bersama bisa menjadi cara efektif menumbuhkan kembali semangat belajar anak,” ujarnya.

Selain menjauhkan anak dari ketergantungan gawai, aktivitas bersama tersebut diyakini mampu mempererat ikatan emosional keluarga modal penting agar anak kembali melangkah ke sekolah dengan hati yang lebih siap dan percaya diri. (red/hil)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *