Hakikat Puasa Ketika Hati Hanya Memandang Allah

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Di sebuah tempat sunyi di Dusun kecil bernama “Padepokan Damar Kamulyan”, senja Ramadhan turun perlahan. Cahaya matahari yang mulai merunduk memantul lembut di sela-sela pepohonan.

Para santri duduk melingkar di serambi kayu, menunggu azan maghrib yang masih beberapa saat lagi akan berkumandang.

banner 719x1003

Di antara mereka, seorang santri muda menatap gurunya dengan penuh rasa ingin tahu. Hatinya dipenuhi kegelisahan yang tak biasa.

Dengan suara pelan namun penuh semangat ia bertanya, “Guru… jelaskan kepadaku, apa sebenarnya hakikat puasa Ramadhan itu?”

Sang guru mengangkat wajahnya. Matanya teduh seperti danau yang tenang. Ia memandang muridnya sejenak, seolah membaca isi hatinya yang terdalam.

Kemudian ia berkata perlahan: Wahai anakku…Hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Itu hanyalah kulitnya.

Hakikat puasa adalah menahan hati dari menyembah, memuja, dan memuji selain Allah.

banner 484x341

Puasa yang sejati adalah ketika mata hati tidak lagi memandang apa pun selain Allah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”

Para santri terdiam. Hanya suara angin senja yang berbisik di antara daun. Sang guru melanjutkan,

Dalam puasa yang hakiki, hati menjadi buta terhadap selain Allah. Pandangannya hanya tertuju kepada-Nya. Cintanya hanya mengalir kepada-Nya.

Ketahuilah… Allah menciptakan alam semesta untuk manusia, namun manusia diciptakan untuk mengenal dan kembali kepada-Nya.

Di dalam hati manusia ada sebuah rahasia. Rahasia itu adalah Nur Allah sebuah titik cahaya gaib yang hanya diketahui oleh ruh. Ruh itulah yang menjadi penghubung antara Khaliq dan makhluk.”

Santri itu menunduk, mendengarkan dengan hati yang bergetar.

“Ruh yang mengenal rahasia itu, tidak akan terpikat oleh apa pun selain Allah. Karena semua selain-Nya akan binasa. Dunia ini hanyalah sementara,” lanjutnya.

Baca Juga :  Saiful Huda Ems: Indonesia Akibat Salah Urus

Pantaskah cinta yang suci diberikan kepada sesuatu yang akan lenyap?”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara yang semakin dalam. “Cinta itu suci. Dan yang paling layak menerima cinta yang suci hanyalah Allah Yang Maha Suci dan Maha Kekal.”

Kemudian sang guru membaca ayat dengan suara tenang: “Sesungguhnya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka luruskanlah dirimu kepada-Nya,” jelas sang guru,

Artinya, luruskan jalan hidupmu… luruskan pula pandangan hatimu. Jangan menuju apa pun selain Dia. Tidak ada yang patut dipuja, tidak ada yang patut dirindukan, kecuali Allah.

Senja semakin redup. Hening menyelimuti padepokan.Sang guru menatap muridnya dengan lembut.

Jika di dalam hati masih ada setitik saja cinta kepada selain Allah yang melebihi cinta kepada-Nya, maka puasa hakiki itu belum sempurna.

Karena itulah aku memerintahkanmu berdzikir La ilaha illallah ribuan kali setiap hari. Agar hatimu lebur dalam cinta kepada-Nya.

Ia melanjutkan dengan suara lirih, jika lisanmu terus berdzikir, lama-lama jiwamu juga akan berdzikir.

Saat itu engkau akan melupakan dirimu sendiri. Egomu runtuh. Dosa-dosamu terbakar oleh cinta kepada Allah.

Hingga akhirnya… yang terasa ada hanyalah Allah. Selain-Nya seakan tiada. Sang guru menutup nasihatnya dengan sabda yang agung:

“Allah berfirman dalam hadits qudsi: Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Mendengar semua itu, sang santri terdiam lama. Dadanya terasa sesak oleh kesadaran yang baru saja lahir.

Dengan suara bergetar ia berkata, Guru… ternyata selama ini aku belum benar-benar berpuasa.

Aku hanya menahan lapar dan haus. Aku belum sampai pada hakikat puasa yang sebenarnya.

Matanya basah menatap langit senja. Di saat yang sama, dari kejauhan terdengar suara azan maghrib mulai berkumandang.

Baca Juga :  Ramadhan di Ponorogo, Imbauan Penutupan THM untuk Keharmonisan Beribadah

Dan di Padepokan Damar Kamulyan itu, seorang santri baru saja memulai puasa yang sesungguhnya puasa hati yang menuju kepada Allah. (red/akha)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *