RAKYAT MENJERIT, PEMERINTAH JANGAN TUTUP MATA

oleh

RAKYAT MENJERIT, PEMERINTAH JANGAN TUTUP MATA

Oleh: Arie Khauripan

banner 720x1000

SURABAYA, SUARASMR.NEWS – Di tengah gemerlap klaim pertumbuhan ekonomi dan berbagai laporan optimistis dari para pejabat, ada suara yang semakin nyaring terdengar dari bawah: suara rakyat yang menjerit karena hidup semakin berat.

Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Biaya pendidikan, kesehatan, listrik, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya semakin menggerus pendapatan masyarakat.

Sementara itu, daya beli rakyat justru melemah. Uang yang dulu cukup untuk memenuhi kebutuhan satu bulan, kini habis jauh sebelum akhir bulan tiba.

Lebih memprihatinkan lagi, sektor usaha yang selama ini menjadi penopang ekonomi rakyat kecil juga sedang menghadapi masa sulit.

Pedagang pasar mengeluhkan sepinya pembeli. UMKM yang pernah digadang-gadang sebagai tulang punggung ekonomi nasional kini banyak yang berjuang sekadar untuk bertahan hidup.

banner 720x1000

Warung-warung kecil kehilangan pelanggan, sementara pelaku usaha mengaku keuntungan semakin menipis akibat biaya operasional yang terus naik.

Pertanyaannya, apakah pemerintah benar-benar mendengar jeritan rakyat? Terlalu sering publik disuguhi angka-angka statistik yang terlihat indah di atas kertas, tetapi jauh dari realitas yang dirasakan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi tidak akan memiliki makna jika rakyat tetap kesulitan membeli beras, mencari pekerjaan, atau mempertahankan usahanya agar tidak gulung tikar.

Pemerintah tidak boleh terjebak dalam euforia laporan-laporan yang hanya terlihat bagus di ruang rapat. Yang dibutuhkan rakyat bukan sekadar narasi optimisme, melainkan kebijakan nyata yang mampu menurunkan beban hidup mereka.

Hari ini, banyak masyarakat merasa negara lebih cepat merespons kepentingan kelompok besar dibanding kesulitan yang dihadapi rakyat kecil.

Ketika harga kebutuhan naik, rakyat diminta bersabar. Ketika usaha lesu, rakyat diminta bertahan. Namun kesabaran juga memiliki batas.

Baca Juga :  Saiful Huda Ems: Yang Membuka Kepalsuan Ijazah Jokowi Adalah Jokowi Sendiri

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa solusi yang konkret, maka yang terancam bukan hanya ekonomi keluarga, tetapi juga kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Sebab rakyat tidak menilai pemerintah dari pidato dan slogan, melainkan dari isi dompet mereka, dari kemampuan mereka membeli kebutuhan sehari-hari, dan dari kemudahan mencari nafkah.

Sudah saatnya pemerintah turun dari menara statistik dan mendengar suara pasar, suara petani, suara nelayan, suara buruh, serta suara pelaku UMKM yang kini semakin tercekik.

Rakyat tidak membutuhkan janji baru. Rakyat membutuhkan harga yang terjangkau, lapangan kerja yang tersedia, dan kebijakan yang berpihak kepada mereka yang setiap hari berjuang menyambung hidup.

Karena jika jeritan rakyat terus diabaikan, maka yang tumbuh bukan lagi harapan, melainkan kekecewaan. Dan sejarah telah berulang kali mengajarkan bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada suara rakyat yang merasa tidak lagi didengar. (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *