Remote Work Bisa Jadi ‘Bom Waktu’ Kesehatan Mental? Penelitian Ungkap Risiko Tersembunyi

oleh

SUARASMR.NEWS JAKARTA – Kerja jarak jauh (remote work) yang selama ini dipuji karena fleksibilitasnya ternyata menyimpan sisi gelap.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science mengungkap bahwa sistem kerja dari rumah berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, terutama bagi pekerja yang tinggal seorang diri.

banner 720x1000

Penelitian yang menganalisis data lebih dari 500.000 orang dewasa di Amerika Serikat itu menemukan pekerja remote menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih lama sendirian setiap hari dibandingkan pekerja yang bekerja langsung di kantor.

Akibatnya, risiko mengalami depresi, kecemasan, tekanan psikologis, hingga rasa kesepian ikut meningkat.

Namun, para peneliti menegaskan bahwa dampak tersebut tidak berlaku untuk semua orang. Pekerja remote yang tinggal bersama keluarga cenderung tidak mengalami peningkatan tekanan mental secara signifikan.

Sebaliknya, mereka yang hidup sendiri menjadi kelompok yang paling rentan karena minimnya interaksi sosial setiap hari.

Temuan lain yang menarik, gangguan kesehatan mental tidak langsung muncul ketika seseorang baru beralih ke sistem kerja jarak jauh.

banner 720x1000

Efek negatifnya justru lebih terlihat setelah bekerja secara remote dalam waktu yang cukup lama, sehingga para ahli menyebut kondisi ini sebagai risiko jangka panjang yang perlu diwaspadai.

Meski demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa remote work bukanlah musuh bagi semua pekerja. Bagi pekerja neurodivergen, seperti penyandang autisme dan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD).

Bekerja dari rumah atau dengan sistem hybrid justru dinilai mampu mengurangi stres dibandingkan harus kembali bekerja penuh di kantor.

Studi lain terhadap sekitar 1.600 pekerja di China bahkan menemukan bahwa sistem kerja fleksibel dan hybrid dapat meningkatkan kepuasan kerja, produktivitas, serta kesehatan mental, terutama bagi perempuan dan pekerja yang memiliki waktu tempuh perjalanan panjang.

Baca Juga :  Gen Z Jangan Cuma Jadi Pencari Kerja Novita Hardini Bongkar Peluang Industri Kreatif yang Mengguncang Masa Depan

Para peneliti menegaskan, dampak kerja jarak jauh tidak bisa digeneralisasi. Kondisi tempat tinggal, karakter individu, dukungan keluarga, hingga budaya kerja dan sistem transportasi.

Di setiap negara menjadi faktor penting yang menentukan apakah remote work menjadi solusi atau justru ancaman bagi kesehatan mental. (red/niluh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *