SUARASMR.NEWS SURABAYA – Jurnalisme bukan sekadar pekerjaan menulis berita. Ia adalah tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran kepada publik. Karena itu, seorang jurnalis harus memiliki keberanian untuk berdiri di atas kepentingan masyarakat, bukan menjadi corong kekuasaan.
Dalam menjalankan tugasnya, jurnalis akan berhadapan dengan berbagai kepentingan. Ada pejabat, pengusaha, tokoh politik, aparat, maupun kelompok yang memiliki kekuatan dan pengaruh. Namun, sebesar apa pun kekuasaan yang dihadapi, prinsip jurnalistik tidak boleh dikorbankan.
Jurnalis harus berani mengungkap fakta ketika terjadi ketidakadilan. Bukan untuk menjatuhkan seseorang, bukan pula untuk mencari sensasi, tetapi untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan berimbang. Kekuasaan harus diawasi, bukan disembah.
Pers memiliki posisi penting sebagai salah satu pilar demokrasi. Ketika jurnalis takut mengkritik penguasa karena tekanan, jabatan, fasilitas, ataupun kepentingan tertentu, maka fungsi kontrol sosial dapat kehilangan maknanya.
Namun keberanian bukan berarti bebas menuduh atau memberitakan tanpa dasar. Jurnalis yang berani justru harus semakin disiplin terhadap fakta.
Setiap informasi harus diverifikasi, setiap tuduhan harus dikonfirmasi, dan setiap pihak yang diberitakan harus diberikan ruang untuk memberikan penjelasan. Di sinilah keberanian dan profesionalisme harus berjalan bersama.
Jurnalis tidak boleh tunduk kepada kekuasaan, tetapi juga tidak boleh tunduk kepada kepentingan pribadi. Ia harus tunduk kepada kebenaran, fakta, etika jurnalistik, dan kepentingan publik.
Sebab ketika pers kehilangan keberanian, masyarakat bisa kehilangan salah satu alat penting untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Jurnalis boleh salah dalam menulis, tetapi jangan pernah sengaja membengkokkan kebenaran. Jurnalis boleh menghadapi tekanan, tetapi jangan menjual independensi. Dan ketika berhadapan dengan kekuasaan, keberanian untuk tetap berpihak kepada kebenaran adalah kehormatan tertinggi seorang jurnalis.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan selalu mengingat siapa yang paling berkuasa. Tetapi masyarakat akan mengingat siapa yang tetap berani bersuara ketika kebenaran membutuhkan pembelaan. (red/akha)










