Tafakur Bukan Sekadar Diam, Tetapi Perjalanan Menanggalkan “Aku”

oleh

SUARASMR.NEWS WONOSOBO – Tafakur bukan sekadar duduk diam dalam semedi. Lebih dari itu, tafakur adalah perjalanan batin untuk perlahan melepaskan “aku”, membebaskan diri dari keterikatan kepada makhluk, hingga sampai pada kesadaran bahwa setiap tarikan dan hembusan napas terjadi atas kehendak Allah, Dzat Yang Maha Hidup.

Pandangan tersebut disampaikan Gus Muhklason Rosyid dalam refleksinya mengenai makna tafakur dan Dhikir Sirrul Asror, sebuah dzikir yang dipahami sebagai perjalanan ke dalam rahasia batin, melampaui sekadar gerak lisan maupun aktivitas pikiran.

banner 930x110

Dalam keadaan batin tertentu, kata Gus Muhklason, kesadaran terhadap ego perlahan dapat mereda. Akal dan pikiran tidak lagi menjadi pusat segala sesuatu. Yang muncul justru kesadaran mendalam bahwa manusia hanyalah seorang hamba yang menjalani ketetapan-Nya.

Pada titik itu, setiap peristiwa kehidupan tidak lagi semata-mata dilihat berdasarkan keinginan pribadi. Suka dan duka dipandang sebagai bagian dari perjalanan takdir yang harus diterima dengan hati lapang.

“Inilah ikhlas yang sejati, menerima suka dan duka tanpa membeda-bedakan, karena keduanya datang dari-Nya,” demikian inti refleksi tersebut.

Tafakur pada akhirnya bukan tentang melarikan diri dari kehidupan, melainkan belajar menghadapi kehidupan dengan hati yang lebih tenang. Bukan berarti berhenti berusaha, tetapi menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara Allah memiliki kehendak yang sempurna.

Ketika keakuan mulai luruh, seseorang tidak lagi sibuk memaksa kehidupan berjalan sesuai kehendaknya. Ia belajar menerima, bersyukur ketika diberi kebahagiaan, bersabar ketika diuji, dan tetap percaya bahwa di balik setiap ketetapan Allah selalu ada hikmah.

Sebab terkadang, ketenangan bukan lahir ketika semua keinginan terpenuhi. Ketenangan justru hadir ketika hati berhenti menuntut dan mulai berserah.

Dan ketika hati sampai pada keadaan itu, satu hal yang tersisa adalah keyakinan sederhana: biarlah Allah yang membimbing setiap langkah kehidupan. (red/adib)

Baca Juga :  Insiden KRL Sidoarjo Ingatkan Pentingnya Teknologi Rem Kereta Api

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *