Tanda-Tanda Ucapan dan Perbuatan yang Lahir Dari Hati

oleh

SUARASMR.NEWS SURABAYA – Ketika sebuah ucapan tidak lagi sekadar kata, melainkan lahir dari kesadaran batin dan kedekatan kepada Allah SWT. Ada kalanya seseorang berbicara tanpa banyak berpikir, berbuat tanpa banyak pertimbangan, dan melangkah tanpa terlebih dahulu menyusun rencana.

Namun, justru dari spontanitas itulah terkadang muncul sesuatu yang terasa begitu dalam, seolah ada dorongan dari ruang batin yang sulit dijelaskan oleh akal.

banner 930x110

Dalam khazanah spiritual, keadaan semacam ini kerap dipahami sebagai Nur Ilahiyah, yakni cahaya kesadaran yang mengarahkan seseorang kepada kebaikan tanpa didahului oleh kepentingan pribadi, ambisi, maupun dorongan ego.

Pemahaman mengenai ucapan dan perbuatan yang datang dari hati bukanlah sekadar persoalan bagaimana seseorang berkata atau bertindak. Lebih jauh dari itu, ia menyentuh wilayah kesadaran manusia dalam merasakan kehadiran Allah SWT.

Ketika hati berada dalam kesadaran kepada-Nya, sebuah ucapan dapat muncul secara spontan. Sebuah tindakan dapat dilakukan tanpa banyak perhitungan.

Bukan karena ingin mendapatkan pujian, bukan pula demi mengejar keuntungan tertentu, melainkan karena ada dorongan batin untuk melakukan sesuatu yang diyakini baik. Di situlah letak perbedaannya dengan tindakan yang lahir dari nafsu atau keakuan.

Tindakan yang bersumber dari nafsu biasanya telah melewati rangkaian perencanaan. Akal dan pikiran bekerja untuk mencari cara agar keinginan pribadi dapat diwujudkan.

Berbagai pertimbangan dilakukan, berbagai kemungkinan dihitung, bahkan tidak jarang seseorang mencari jalan agar apa yang diinginkan oleh dirinya dapat tercapai.

Sementara itu, sesuatu yang lahir dari kedalaman hati hadir dengan cara yang berbeda. Ia tidak selalu diawali oleh perencanaan panjang.

Tidak selalu pula didorong oleh kepentingan untuk mendapatkan pengakuan. Ia dapat hadir begitu saja sederhana, spontan, tetapi meninggalkan rasa yang dalam.

Baca Juga :  Kesadaran Masyarakat Terhadap Kesehatan Jiwa Meningkat, Stigma Mulai Terkikis

Namun, pengalaman batin semacam ini tidak selalu mudah dijelaskan kepada orang lain. Sebab, bahasa memiliki keterbatasan. Kata-kata hanya mampu menyampaikan sesuatu yang dapat diterima oleh akal dan pikiran, sedangkan pengalaman rasa berada pada wilayah yang jauh lebih dalam.

Apa yang dapat dijelaskan melalui kata-kata terkadang hanyalah kulit dari sebuah pengalaman. Hakikat rasa tidak selalu dapat diterjemahkan secara utuh menjadi kalimat. Ia bukan semata-mata sesuatu yang harus dipahami, tetapi sesuatu yang harus dialami dan dirasakan.

Karena itu, seseorang yang belum mengalami sebuah keadaan batin tertentu mungkin akan sulit memahami apa yang dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Bukan karena pengalaman itu tidak nyata, melainkan karena setiap manusia memiliki perjalanan kesadaran yang berbeda.

Ketika Hati Menjadi Ruang Kesadaran: Dalam pandangan spiritual, hati bukan sekadar tempat bersemayamnya perasaan. Hati dapat menjadi ruang kesadaran yang menghubungkan manusia dengan dimensi ketuhanan.

Di sanalah seseorang belajar membedakan antara dorongan ego dan dorongan yang lebih jernih. Ego ingin mendapatkan. Hati belajar memberi. Nafsu ingin diakui.Kesadaran mengajarkan keikhlasan.

Pikiran sering bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” Sementara hati yang tenang justru bertanya, “Apa yang seharusnya saya lakukan?”

Perbedaan itu mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan perjalanan batin yang panjang. Sebab, semakin seseorang belajar melepaskan kepentingan dirinya, semakin ia berusaha menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatu pada akhirnya berada dalam kehendak Allah SWT.

Tidak Semua yang Dirasakan Harus Dijelaskan: Pada akhirnya, pengalaman spiritual memang memiliki batas ketika hendak diterjemahkan ke dalam bahasa. Kata-kata hanyalah sarana untuk mendekati sebuah pengalaman. Sementara hakikat pengalaman itu sendiri berada jauh lebih dalam.

Sebab, ada rasa yang tidak selesai hanya dengan penjelasan. Ada ketenangan yang tidak dapat diterangkan dengan teori.

Baca Juga :  Dongeng Sebelum Tidur: Cara Sederhana Orang Tua Ciptakan Anak Cerdas dan Bahagia

Ada kesadaran yang tidak dapat dibuktikan hanya melalui kata-kata. Dan ada pengalaman batin yang mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka yang benar-benar pernah berjalan dan merasakannya sendiri.

Sebagaimana disampaikan Gus Muhklason Rosyid:

“Hakikat rasa berada jauh di dalam ruang batin manusia. Ia bukan sekadar sesuatu yang dapat dibicarakan, tetapi sesuatu yang harus dialami melalui perjalanan kesadaran.”

Sebab pada akhirnya, kata-kata hanyalah kulit dari pengalaman, sementara rasa adalah kedalaman yang hanya dapat disentuh oleh hati yang mengalaminya. (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *