Ketika Hidup Terasa Tak Lagi Bermakna, Lalu Apa yang Harus Dilakukan?

oleh

SUARASMR.NEWS SURABAYA – Ada masa ketika seseorang bangun dari tidur, tetapi tidak benar-benar tahu untuk apa ia menjalani hari. Pekerjaan tetap dilakukan, makan tetap dijalani. Bertemu orang tetap bisa tersenyum, bahkan dari luar semuanya terlihat baik-baik saja.

Namun jauh di dalam hati muncul sebuah pertanyaan yang sulit dijawab : “Sebenarnya untuk apa aku masih menjalani semua ini?”

banner 930x110

Perasaan hidup sudah tidak bermakna bukan selalu berarti seseorang ingin menyerah. Terkadang, itu hanya tanda bahwa hati dan pikiran sudah terlalu lama lelah.

Terlalu banyak kehilangan, terlalu banyak berharap, terlalu sering kecewa, atau terlalu lama menjalani sesuatu yang tidak lagi memberikan ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.

Dan yang paling melelahkan adalah ketika seseorang harus terlihat kuat, sementara di dalam dirinya sedang terjadi peperangan yang tidak diketahui siapa pun. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidup ini tidak berarti.

Ketika sedang lelah, pikiran sering melihat kehidupan dari sudut yang paling gelap. Kegagalan terasa seperti akhir, kesepian terasa seperti takdir. Kehilangan terasa seperti bukti bahwa kebahagiaan tidak lagi menjadi bagian dari hidup.

Padahal, merasa tidak bermakna tidak sama dengan benar-benar tidak memiliki makna. Bisa jadi bukan hidup yang kehilangan arti, mungkin kita hanya sedang kehilangan tenaga untuk melihat arti itu.

Karena itu, jangan mengambil keputusan besar ketika hati sedang berada di titik paling lelah : Berhentilah sejenak. Tarik napas. Izinkan diri kita mengakui, “Ya, aku sedang lelah.”

Tidak perlu selalu terlihat kuat. Tidak semua luka harus disembunyikan. Tidak semua masalah harus selesai hari ini. Kembali kepada hal-hal sederhana ketika hidup terasa terlalu berat, jangan memaksa diri mencari jawaban tentang seluruh masa depan.

Baca Juga :  PUPR Tulungagung Tancap Gas! 25 Titik Jalan Berlubang di Ruas Besuki–Gambiran Disikat Habis Demi Keselamatan Warga

Mulailah dari hari ini, makan dengan baik, tidur cukup, berjalan sebentar, duduk menikmati kopi lalu berbicara dengan orang yang dipercaya dan pergi ke tempat yang membuat hati lebih tenang.

Hal-hal kecil mungkin terlihat tidak penting, namun sering kali, kehidupan memang kembali dibangun dari hal-hal sederhana. Tidak harus langsung menemukan tujuan besar, cukup menemukan alasan untuk melewati hari ini, besok kita pikirkan lagi.

Salah satu penyebab hidup terasa tidak bermakna adalah terlalu sering melihat kehidupan orang lain yang bahagia, sementara diri ini sedang berjuang menyembunyikan kesedihan.

banner 930x110

Padahal setiap manusia memiliki waktunya sendiri. Ada yang menemukan kebahagiaan di usia muda, ada pula yang baru menemukannya setelah melewati banyak kehilangan.

Tidak ada perlombaan dalam kehidupan. Tidak ada kata terlambat. Kita hanya sedang berjalan melalui jalan yang berbeda. Berdamailah dengan masa lalu, karena orang yang telah pergi tidak bisa kembali. Kesalahan yang sudah terjadi tidak selalu dapat dihapus.

Tetapi menerima kenyataan bukan berarti menyetujui semua yang telah terjadi. Menerima berarti berkata kepada diri sendiri: “Aku tidak bisa mengubah kemarin, tetapi aku masih memiliki kesempatan menentukan bagaimana aku menjalani hari ini.”

Masa lalu boleh menjadi bagian dari cerita, tetapi jangan biarkan ia menjadi penjara. Cari kembali sesuatu yang membuat diri  merasa berguna. Kadang makna hidup tidak ditemukan dalam sesuatu yang besar, ia hadir ketika kita merasa masih dibutuhkan. Dan salah satunya menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Ada kebahagiaan yang muncul bukan ketika kita mendapatkan sesuatu, tetapi ketika kita menyadari: “Ternyata keberadaanku masih berarti bagi seseorang, karena itu, jangan hanya bertanya : “Apa yang bisa diberikan hidup kepadaku?”

Baca Juga :  Hari Tua dalam Kesendirian: Ketika Pasangan Pergi, Doa Menjadi Jembatan Cinta yang Tak Pernah Putus

Sesekali bertanyalah : “Apa yang masih bisa kuberikan kepada kehidupan?” Ada saatnya manusia tidak membutuhkan jawaban dari manusia lain. Kita hanya membutuhkan tempat untuk bersujud. Bercerita kepada Allah apa yang tidak sanggup kita ceritakan kepada siapa pun.

Tidak harus dengan doa yang panjang, bahkan cukup: “Ya Allah, aku lelah. Aku tidak tahu harus ke mana, tolong tuntun aku.” Allah tidak meminta kita selalu kuat, kadang justru melalui kelemahan manusia belajar kembali bersandar kepada-Nya.

Percayalah, hidup yang sedang gelap belum tentu kehilangan arah. Bisa jadi kita hanya belum melihat jalan yang sedang Allah SWT bukakan.

Jadi, kalau hidup terasa sudah tidak bermakna, apa yang harus dilakukan? Mungkin kita hanya perlu berhenti sebentar, mengatur napas, membersihkan hati dari terlalu banyak beban, lalu perlahan mulai berjalan lagi.

Tidak perlu mengetahui seluruh tujuan perjalanan, cukup tahu langkah berikutnya. Hari ini mungkin kita hanya mampu bertahan, tidak apa-apa. Besok mungkin kita mulai tersenyum, lusa mungkin kita kembali memiliki harapan.

Dan suatu hari nanti, kita mungkin menoleh ke belakang dan menyadari ternyata masa ketika hidup terasa tidak bermakna bukanlah akhir dari perjalanan karena itu hanyalah sebuah persinggahan.

Tempat kita belajar bahwa hidup tidak selalu harus dipahami untuk tetap dijalani. Kadang kita hanya perlu percaya, selama masih diberi napas, masih ada kemungkinan bahwa cerita terbaik belum selesai. (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *