SUARASMR.NEWS – Anggapan lama yang melarang anak mandi saat terkena campak atau cacar ternyata tidak benar. Dokter spesialis kulit, dr. July Iriani Rahardja, SpDVE, MM, FINSDV, menegaskan bahwa larangan tersebut hanyalah mitos yang sudah lama beredar di masyarakat.
Menurutnya, anak yang sedang mengalami campak atau cacar justru perlu menjaga kebersihan tubuh, termasuk dengan mandi secara rutin.
“Larangan mandi itu sebenarnya hoaks. Yang perlu diperhatikan bukan penyakitnya, tetapi kondisi anak. Jika sedang demam tinggi atau mudah kedinginan, baru mandi sebaiknya ditunda,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (25/4/2026).
Ia menjelaskan, menjaga kebersihan kulit sangat penting untuk mencegah infeksi tambahan. Jika anak tidak mandi, kotoran, keringat, dan sisa obat oles dapat menumpuk di kulit dan berpotensi menimbulkan masalah baru seperti luka atau koreng.
“Justru harus mandi supaya kulit tetap bersih. Kalau tidak, bisa memperparah kondisi kulit,” tegasnya.
Namun demikian, orang tua tetap harus memperhatikan cara memandikan anak yang sedang sakit. Disarankan menggunakan air hangat dengan suhu sekitar 36–37 derajat Celcius serta sabun yang lembut dan tidak mengiritasi kulit.
Dokter July juga mengingatkan agar penggunaan sabun antiseptik tidak dilakukan sembarangan. “Antiseptik tidak disarankan untuk penggunaan harian, kecuali ada indikasi infeksi bakteri. Jadi penggunaannya harus sesuai anjuran dokter,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa campak dan cacar merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Proses penyembuhan sangat bergantung pada daya tahan tubuh anak.
“Ini termasuk self-limiting disease, artinya bisa sembuh sendiri. Kuncinya ada pada imunitas tubuh,” ungkapnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pola hidup bersih dan sehat serta asupan gizi seimbang untuk mempercepat pemulihan anak.
Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan tidak lagi terjebak pada mitos yang justru dapat menghambat proses penyembuhan. (red/hil)











