SUARASMR.NEWS, SURABAYA – Semakin banyak masyarakat yang bertanya: di mana letak keberhasilan ekonomi yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah jika kehidupan rakyat justru terasa semakin berat?
Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, rakyat tidak membutuhkan pidato yang penuh optimisme. Yang mereka butuhkan adalah harga kebutuhan pokok yang terjangkau, lapangan pekerjaan yang tersedia, dan kepastian bahwa besok kehidupan mereka tidak lebih sulit dari hari ini.
Sayangnya, yang dirasakan banyak masyarakat justru sebaliknya, biaya hidup terus menekan, daya beli melemah, dan ketidakpastian ekonomi semakin menghantui.
Pemerintah tampak lebih sibuk membangun citra keberhasilan daripada menjawab kegelisahan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Ketika rakyat mengeluhkan mahalnya kebutuhan sehari-hari, jawabannya sering kali berupa data statistik dan angka pertumbuhan ekonomi.
Padahal rakyat tidak makan angka pertumbuhan. Rakyat makan beras, membeli minyak goreng, membayar sekolah anak, dan berjuang memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mahal.
Yang lebih mengkhawatirkan, kritik terhadap kondisi ekonomi sering kali dianggap sebagai bentuk pesimisme atau sikap yang tidak mendukung pemerintah.
Padahal kritik muncul karena adanya kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Jika suara rakyat terus diabaikan, pemerintah berisiko kehilangan kemampuan membaca situasi di lapangan dan terjebak dalam ruang gema yang hanya berisi pujian.
Sejarah mengajarkan bahwa pemerintahan yang terlalu percaya pada laporan keberhasilan tanpa mendengar keluhan rakyat biasanya terlambat menyadari krisis yang sedang tumbuh.
Kemarahan publik tidak lahir dalam semalam. Ia muncul dari akumulasi kekecewaan, dari janji yang tak kunjung terwujud, dan dari kesenjangan antara apa yang disampaikan penguasa dengan apa yang dirasakan masyarakat.
Pemerintahan Prabowo masih memiliki waktu untuk membuktikan diri. Namun waktu itu tidak akan berlangsung selamanya. Kesabaran rakyat memiliki batas.
Jika ekonomi keluarga terus terjepit sementara elite politik sibuk berbicara tentang keberhasilan, maka yang tumbuh bukan lagi harapan, melainkan ketidakpercayaan.
Sebuah pemerintahan tidak akan diingat karena banyaknya slogan yang diucapkan, tetapi karena sejauh mana rakyat merasakan kesejahteraan.
Dan hari ini, masih terlalu banyak rakyat yang merasa hidup semakin berat dibandingkan janji perubahan yang pernah mereka dengar. Masyarakat sudah merasa lelah dengan janji-janji. (red/akha)











