SUARASMR.NEWS SURABAYA – Dalam kehidupan, tidak ada harta yang lebih berharga daripada kepercayaan. Kepercayaan lahir dari ucapan yang dijaga dan janji yang ditepati.
Namun, ketika seseorang dengan mudah mengingkari janjinya, yang hancur bukan hanya sebuah kesepakatan, melainkan juga rasa hormat dan keyakinan orang lain.
Janji bukan sekadar rangkaian kata untuk menyenangkan hati atau menenangkan keadaan. Janji adalah komitmen moral yang menuntut tanggung jawab. Karena itu, orang yang gemar mengumbar janji tetapi tidak pernah berniat menepatinya sedang mengikis nilai dirinya sendiri.
Mungkin ia bisa mencari alasan untuk membenarkan tindakannya, tetapi alasan tidak pernah mampu mengembalikan kepercayaan yang telah hilang.
Pengkhianatan terhadap janji sering kali meninggalkan luka yang lebih dalam daripada penolakan. Sebab, harapan sudah telanjur dibangun, keyakinan sudah diberikan.
Tetapi akhirnya semua runtuh karena ketidakjujuran atau ketidakbertanggungjawaban. Sekali kepercayaan rusak, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk membangunnya kembali.
Dalam ajaran Islam pun, menepati janji merupakan bagian dari akhlak mulia. Seseorang dituntut untuk berhati-hati sebelum mengucapkan janji. Jika belum mampu memenuhi, lebih baik berkata jujur daripada memberikan harapan yang pada akhirnya dikhianati.
Pada akhirnya, sejarah hidup seseorang tidak hanya diingat dari seberapa tinggi jabatannya atau seberapa banyak hartanya, tetapi juga dari seberapa teguh ia memegang ucapannya. Sebab, kehormatan seseorang lahir dari integritasnya.
Janji yang ditepati melahirkan kepercayaan. Janji yang dikhianati melahirkan penyesalan. Dan orang yang kehilangan kepercayaan sering kali kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada sekadar sebuah kesempatan: ia kehilangan nama baiknya sendiri. (red/akha)











