Ketika Cinta Terhalang Restu Ibu Haruskah Pernikahan Tetap Dilanjutkan?

oleh

SUARASMR.NEWS SURABAYA – Cinta yang tulus adalah anugerah. Namun, dalam kehidupan, tidak semua kisah cinta berjalan mulus.

Ada kalanya dua insan yang telah saling mencintai, saling mengenal, bahkan telah berkomitmen untuk membangun rumah tangga, harus menghadapi kenyataan pahit karena belum memperoleh restu dari orang tua, terutama dari seorang ibu.

banner 930x110

Dalam Islam, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang sangat besar. Allah SWT memerintahkan setiap anak untuk menghormati dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Namun, Islam juga mengajarkan bahwa pernikahan adalah ibadah yang dianjurkan bagi mereka yang telah mampu dan siap menjalaninya.

Situasi seperti ini tentu bukan perkara mudah. Di satu sisi, restu orang tua merupakan doa yang sangat berharga bagi kehidupan anak.

Di sisi lain, jika kedua calon mempelai saling mencintai, dan siap membangun keluarga yang bertanggung jawab, maka muncul pertanyaan: apakah pernikahan harus dibatalkan hanya karena belum mendapat restu?

Dalam Islam maupun nilai-nilai kehidupan, langkah pertama yang harus ditempuh adalah tetap mengedepankan kesabaran dan ikhtiar.

Teruslah menjalin komunikasi yang baik, mencari tahu alasan penolakan, melibatkan keluarga yang dihormati, tokoh agama, atau orang yang dapat menjadi penengah. Jangan pernah membalas penolakan dengan kemarahan atau permusuhan.

Namun, apabila segala upaya telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, sementara penolakan tidak didasarkan pada alasan yang bertentangan dengan agama melainkan karena perbedaan status sosial, ekonomi, perbedaan usia, atau alasan pribadi lainnya;

“Maka kedua calon pasangan dapat mempertimbangkan untuk tetap melanjutkan pernikahan sesuai dengan ketentuan hukum dan agama yang berlaku.”

Keputusan tersebut tentu bukan berarti mengabaikan atau melawan orang tua. Sebaliknya, setelah menikah, keduanya tetap memiliki kewajiban untuk tetap menghormati ibu.

Baca Juga :  Identitas Partai: Pelajaran dari Pemilu Amerika untuk Sistem Politik Indonesia

Waktu sering kali menjadi guru terbaik. Banyak orang tua yang awalnya menolak, akhirnya luluh ketika melihat anaknya hidup bahagia, rumah tangganya harmonis, serta menantu yang mampu menunjukkan kasih sayang dan tanggung jawab.

Membahagiakan orang tua memang merupakan cita-cita setiap anak. Namun, orang tua juga diharapkan melihat kebahagiaan anak sebagai bagian dari kebahagiaan mereka.

Pernikahan yang dibangun atas dasar cinta, tanggung jawab, dan niat ibadah memiliki peluang besar untuk menjadi jalan kebaikan, asalkan kedua pasangan benar-benar menjaga komitmen dan akhlaknya.

Pada akhirnya, tidak ada pasangan yang menginginkan pernikahan dimulai dengan kesedihan keluarga. Karena itu, teruslah berdoa, berikhtiar, dan menjaga hati.

Jika pernikahan memang menjadi jalan terbaik setelah semua usaha untuk memperoleh restu telah ditempuh, maka jalani rumah tangga dengan penuh tanggung jawab.

Sembari tetap berharap suatu hari nanti hati seorang ibu akan terbuka, melihat kebahagiaan anaknya. Sebab kasih sayang seorang ibu begitu besar dan tidak ternilai.

Semoga setiap cinta yang dibangun karena Allah dipertemukan dengan jalan terbaik, setiap penolakan diganti dengan pemahaman, dan setiap doa seorang ibu pada akhirnya menyatu menjadi restu yang menguatkan langkah anak menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *