IDAI Ingatkan Orang Tua: Keracunan Makanan pada Anak Bisa Berujung Gagal Ginjal

oleh

SUARASMR.NEWS JAKARTA – Jangan anggap muntah dan diare pada anak sebagai penyakit biasa. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan, keracunan makanan pada anak dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi dehidrasi berat, gangguan saraf hingga gangguan ginjal akut.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K), bahkan meminta orang tua tidak membuang waktu menunggu ramuan atau “penawar racun” bekerja ketika kondisi anak mulai menunjukkan tanda bahaya.

banner 930x110

“Jangan menunda ke fasilitas kesehatan karena menunggu ramuan penawar racun bekerja. Keterlambatan datang ke fasilitas kesehatan lebih berbahaya daripada jenis kuman penyebab,” tegas Yogi dalam diskusi media di Jakarta, Jumat.

Jangan Tunggu Anak Makin Lemas : Gejala yang paling sering muncul antara lain mual, muntah, nyeri perut, diare hingga BAB berdarah.

Tetapi ancaman tidak berhenti di sana. Anak juga dapat mengalami demam, sakit kepala atau pusing, pandangan kabur, kesemutan serta kelemahan anggota gerak.

Tanda dehidrasi juga wajib menjadi alarm bagi orang tua. Mulut kering, rasa haus terus-menerus, jarang buang air kecil, urine berwarna pekat, pusing dan tubuh lemas merupakan sejumlah tanda yang tidak boleh disepelekan.

BAB Berdarah Bisa Jadi Alarm Gangguan Ginjal : Salah satu kondisi yang paling perlu diwaspadai adalah diare berdarah yang disertai demam ringan atau bahkan tanpa demam. Menurut Yogi, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan E. coli penghasil toksin Shiga.

Yang mengkhawatirkan, komplikasi serius justru dapat muncul beberapa hari setelah gejala awal. Pada hari kelima hingga kesepuluh, anak berisiko mengalami anemia, penurunan trombosit hingga gangguan ginjal akut.

Artinya, ketika diare berdarah mulai terjadi, orang tua tidak boleh hanya menunggu kondisi membaik dengan sendirinya.

Baca Juga :  Iwakum Gugat UU Pers ke MK, Desak Perlindungan Wartawan Lebih Jelas

Bayi Sembelit dan Mendadak Lemas, Waspada Botulisme : Alarm berikutnya adalah ketika bayi mendadak lemas disertai sembelit yang baru muncul.

Kondisi tersebut perlu dicurigai sebagai botulisme pada bayi. Gejalanya dapat berkembang mulai dari sembelit, kemampuan mengisap yang melemah, perubahan tangisan, kelopak mata menurun hingga kelemahan tubuh secara menyeluruh.

“Kalau ini terjadi mohon hubungi rujukan segera, jangan menunggu hasil pemeriksaan tinja,” kata Yogi.

Selain itu, penyakit yang berlangsung berkepanjangan pada anak atau terjadi pada kelompok berisiko tinggi juga perlu mendapat perhatian. Infeksi seperti Listeria dapat berbahaya bagi bayi baru lahir dan anak dengan daya tahan tubuh menurun. Sementara Cyclospora dapat menyebabkan diare cair selama berminggu-minggu.

Ini Kondisi yang Tak Boleh Ditunggu : IDAI meminta orang tua segera membawa anak mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami : muntah terus-menerus, BAB berdarah, diare lebih dari tiga hari, demam tinggi, sulit dibangunkan, kebingungan, kejang, dehidrasi atau kelemahan anggota gerak.

Bayi berusia di bawah tiga bulan yang mengalami demam juga harus segera mendapatkan pemeriksaan medis. Ada satu petunjuk yang menurut Yogi sangat kuat untuk mencurigai keracunan makanan: penyakit muncul berkelompok.

Jika beberapa orang yang mengonsumsi makanan atau minuman yang sama kemudian mengalami keluhan dalam waktu berdekatan, dugaan keracunan makanan menjadi lebih kuat. “Ini petunjuk tunggal paling kuat,” ujarnya.

Risiko juga perlu dicermati setelah konsumsi daging atau unggas kurang matang, susu tanpa pasteurisasi, makanan laut mentah, air sumur atau air banjir, serta pada bayi yang mendapatkan madu sebelum usia 12 bulan.

Riwayat perjalanan ke daerah dengan keamanan pangan dan air yang kurang terjamin juga dapat menjadi petunjuk. Namun, orang tua diminta tidak buru-buru menunjuk satu makanan sebagai biang kerok hanya karena gejala muncul setelah makan. Sebab, waktu munculnya gejala hanyalah petunjuk, bukan bukti mutlak.

Baca Juga :  Tragedi di Kampus Udayana Mahasiswa Diduga Tewas Akibat Perundungan Brutal

“Kedekatan waktu adalah petunjuk, bukan bukti. Menyimpulkan penyebab terlalu dini justru menutup diagnosis lain yang sebenarnya bisa diobati,” tegas Yogi.

Pesan IDAI sangat jelas, ketika anak menunjukkan tanda bahaya, jangan menunggu. Dalam kasus keracunan makanan, keterlambatan penanganan bisa jauh lebih berbahaya daripada sekadar mengetahui kuman penyebabnya. (red/niluh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *