SUARASMR.NEWS GILIMANUK – Kemacetan yang berulang di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk mulai menjadi sorotan serius. Tak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, antrean panjang kendaraan di pintu masuk Bali dinilai berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap kelancaran akses menuju Pulau Dewata.
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono bahkan menyebut persoalan tersebut bisa ikut menyeret sektor pariwisata Bali. Menurutnya, wisatawan dan masyarakat dari berbagai daerah membutuhkan kepastian bahwa perjalanan menuju Bali dapat berlangsung lancar.
“Pasti ini dampaknya ke pariwisata. Masyarakat seluruh Indonesia jadi enggak percaya sama kelancaran yang ada di Bali,” kata Bambang saat mengecek kondisi Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Senin (28/9/2026).
Bambang menilai jalur Ketapang-Gilimanuk memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu akses utama masyarakat yang bepergian antara Pulau Jawa dan Bali melalui jalur darat.
Karena itu, persoalan kemacetan tidak cukup hanya ditangani dari sisi Jawa Timur. Ia meminta Pemerintah Provinsi Bali ikut turun tangan mendukung pembenahan fasilitas penyeberangan yang dilakukan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).
Menurut Bambang, dukungan pemerintah daerah di sisi Bali sangat diperlukan agar pembenahan fasilitas dapat dilakukan secara terintegrasi di kedua sisi lintasan.
“Saya juga mohon Pemerintah Provinsi Bali ya, itu ikut mendukung ASDP di dalam pembangunan-pembangunan seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi yang ada di Jawa Timur,” ujarnya.
Ia berharap pembenahan fasilitas di Pelabuhan Ketapang maupun Gilimanuk mampu meningkatkan kelancaran arus kendaraan dan penumpang. Sebab, persoalan antrean panjang bukan hanya menyangkut kenyamanan perjalanan, tetapi juga berkaitan dengan kelancaran aktivitas ekonomi dan mobilitas menuju Bali.
Kemacetan di lintasan Ketapang-Gilimanuk sebelumnya kembali terjadi dan berdampak terhadap masyarakat yang hendak menyeberang dari Jawa menuju Bali maupun sebaliknya.
Bambang mengatakan akan terus memantau penerapan berbagai langkah yang telah disepakati untuk mengurai persoalan tersebut, termasuk upaya meningkatkan kapasitas angkut kapal.
Ia berharap langkah pembenahan dapat berjalan efektif sebelum memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang biasanya diikuti lonjakan mobilitas masyarakat.
“Kalau ini dilakukan benar, insyaallah pada waktu masa liburan Nataru enggak ada masalah,” kata Bambang.
Kemacetan Ketapang-Gilimanuk kini bukan sekadar persoalan antrean kendaraan. Kelancaran jalur penyeberangan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga mobilitas masyarakat sekaligus kepercayaan terhadap akses menuju destinasi wisata Bali. (red/niluh)











