Pring Sedapur, Legenda Santet Jawa Timur yang Konon Bisa Menjangkau Satu Keluarga

oleh

SUARASMR.NEWS SURABAYA – Nama Pring Sedapur hingga kini masih menyisakan aura misteri dalam cerita mistis yang berkembang di sebagian masyarakat Jawa Timur.

Dalam tradisi lisan, istilah tersebut dikaitkan dengan salah satu bentuk santet yang dipercaya memiliki sasaran lebih luas dibandingkan cerita santet pada umumnya.

banner 930x110

Bukan hanya satu orang. Dalam sejumlah versi cerita masyarakat, Pring Sedapur bahkan disebut-sebut dapat menyasar satu keluarga hingga garis keturunannya.

Kisah tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu legenda ilmu hitam yang dianggap paling misterius dalam khazanah mistik Jawa Timur.

Narasi mengenai Pring Sedapur antara lain muncul dalam tayangan YouTube Gus Muwafiq berjudul “Menjungkir Balikan Santet Pring Sedapur”. Dalam cerita yang beredar, Pring Sedapur juga dikaitkan dengan beberapa wilayah di Jawa Timur.

Namun, penting ditegaskan, kisah tersebut berada dalam ranah folklor, kepercayaan dan tradisi lisan masyarakat. Belum terdapat bukti ilmiah yang membuktikan kemampuan supranatural sebagaimana dikisahkan dalam berbagai versi cerita.

Pring Sedapur dan Simbol Rumpun Bambu : Secara harfiah, istilah pring sedapur merujuk pada bambu yang tumbuh dalam satu rumpun.

Bambu dalam satu rumpun memiliki akar dan batang yang saling berdekatan sehingga kemudian digunakan sebagai simbol hubungan erat antaranggotanya.

Simbol inilah yang dalam cerita masyarakat kemudian dikaitkan dengan konsep serangan yang tidak hanya ditujukan kepada satu individu, tetapi dapat mengenai anggota keluarga lainnya.

Semakin luas cerita berkembang, semakin kuat pula gambaran mengenai Pring Sedapur sebagai santet yang konon memiliki jangkauan hingga garis keturunan.

Ritual dan Kisah Risiko bagi Pelaku : Dalam berbagai versi cerita, Pring Sedapur disebut bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Ada narasi yang menyebut pelakunya harus memiliki kemampuan spiritual tertentu dan menjalankan ritual khusus.

Baca Juga :  Sosiolog UMY: Gerakan Stop Tot-Tot Wuk-Wuk Jadi Alarm Kemarahan Publik, Pejabat Diminta Lebih Peka

Sebagian cerita juga menyebut penggunaan benda tertentu, sesaji, mantra hingga lokasi yang dianggap memiliki kekuatan mistis. Ada pula kisah mengenai risiko balik atau dampak terhadap pelaku apabila ritual dilakukan secara tidak tepat.

banner 930x110

Namun, detail tersebut berbeda antara satu cerita dengan cerita lainnya. Tidak terdapat standar ritual Pring Sedapur yang dapat diverifikasi secara ilmiah, termasuk klaim bahwa ritual tersebut mampu mengirimkan energi negatif yang menyebabkan seseorang sakit atau meninggal dunia.

Karena itu, cerita mengenai tumbal, risiko balik maupun kemampuan menyerang korban perlu ditempatkan sebagai bagian dari mitologi dan folklor masyarakat, bukan sebagai fakta ilmiah.

Dalam cerita yang berkembang, penyakit yang sulit dijelaskan, kesialan bertubi-tubi hingga kematian yang tidak diketahui penyebabnya terkadang dikaitkan dengan santet.

Kepercayaan semacam itu menunjukkan bagaimana masyarakat memberikan makna terhadap berbagai peristiwa yang dianggap sulit dijelaskan.

Dalam perspektif sosial dan psikologis, rasa takut terhadap ancaman yang tidak terlihat juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami penyakit, konflik keluarga maupun berbagai kejadian buruk.

Penelitian UGM: Santet Tak Selalu Dipahami sebagai Kejahatan Di luar kisah mistis Pring Sedapur, santet juga pernah menjadi objek kajian akademik.

Tim PKM-RSH UGM yang terdiri atas Izza dari Arkeologi 2019, Derry dari Bahasa dan Sastra Indonesia 2019, Ana dari Arkeologi 2019, Syibly dari Psikologi 2018, dan Fadli dari Sastra Jawa 2018.

Mereka melakukan penelitian mengenai bagaimana santet dipahami masyarakat serta perubahan pemaknaannya dari sesuatu yang memiliki nilai positif menjadi identik dengan hal negatif.

Penelitian tersebut dilakukan melalui wawancara, analisis digital dan analisis tekstual terhadap berbagai sumber, di bawah bimbingan Dr. Agung Wicaksono, MA, dosen Antropologi Budaya UGM. Dalam penelitian itu, tim menyoroti beragamnya persepsi masyarakat terhadap santet.

Baca Juga :  Fesyen Cerminan Identitas dan Daya Tarik Wisata, Refleksi dari Indonesia Fashion Week 2025

Izza menyebut pemahaman masyarakat Indonesia mengenai santet masih banyak berada dalam wilayah simpang siur karena minimnya bukti yang dapat memvalidasi berbagai klaim mengenai praktik tersebut.

Istilah Santet dalam Manuskrip Jawa : Hasil penelitian tim tersebut juga menemukan bahwa kata “santet” tidak ditemukan secara langsung dalam sejumlah manuskrip yang menjadi objek kajian.

Namun, terdapat kata yang memiliki hubungan erat dengan konsep tersebut, yakni “sathet” dalam Serat Wedhasatmaka tahun 1905, yang diartikan sebagai jenis pesona dengan menggambar.

Berdasarkan wawancara dengan Wisma Nugraha, C.R., M.Hum., dosen FIB UGM, penggunaan istilah santet dalam konteks kasusastran Jawa juga dikaitkan dengan akronim mesisan kanthet dan mesisan benthet.

Mesisan kanthet menggambarkan sesuatu yang dibuat melekat atau menyatu, sementara mesisan benthet menggambarkan sesuatu yang dibuat retak atau terpisah.

Dari Nilai Positif hingga Penyalahgunaan : Penelitian tersebut juga mencatat bahwa dalam sebagian pemahaman masyarakat Jawa, konsep santet pada masa lalu tidak selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif.

Berdasarkan wawancara dengan Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) khususnya dalam konteks masyarakat Jawa di Banyuwangi, konsep tersebut dikaitkan dengan dua sisi, menyatukan sesuatu maupun memisahkan sesuatu.

Perdunu yang dideklarasikan di Banyuwangi pada Februari 2021, meskipun keduanya memiliki semangat serupa untuk membersihkan stigma buruk terhadap profesi paranormal.

Tim UGM juga mencatat adanya praktik yang oleh masyarakat di sebagian Jawa Timur dipahami berkaitan dengan santet untuk kepentingan seperti menangkap ikan, memanggil hujan dan menyembuhkan sakit.

Dalam konteks penelitian tersebut, praktik-praktik itu dipahami sebagai bagian dari konstruksi budaya dan kepercayaan masyarakat pada masanya.

Izza menjelaskan bahwa santet memiliki konsep nilai positif dan negatif, tetapi kemudian dapat disalahgunakan.

Baca Juga :  Jelang Ramadhan 1447 H, Pemprov Jatim “Gaspol” Tekan Harga: Pasar Murah Digelar, Beras Gratis Dibagikan

Antara Mitos, Budaya dan Keyakinan : Legenda Pring Sedapur pada akhirnya memperlihatkan betapa kuatnya tradisi lisan dalam mempertahankan sebuah cerita dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Cerita mengenai rumpun bambu, ritual, keluarga, keturunan hingga risiko balik membentuk narasi yang terus berkembang dengan berbagai versi.

Namun, hingga kini tidak terdapat bukti ilmiah yang membuktikan bahwa Pring Sedapur mampu menyebabkan penyakit, kematian atau mengirimkan energi supranatural kepada seseorang.

Karena itu, Pring Sedapur lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari khazanah folklor, budaya dan sejarah kepercayaan lokal Jawa Timur.

Di tengah perkembangan zaman, kisah tersebut tetap menarik untuk dikaji. Bukan semata-mata karena sisi mistisnya, tetapi karena memperlihatkan bagaimana manusia membangun makna terhadap sesuatu yang tidak mudah dijelaskan.

Pada akhirnya, Pring Sedapur tetap berada di antara batas mitos, tradisi lisan, simbol budaya dan keyakinan masyarakat sebuah cerita yang terus hidup, sementara kebenaran supranatural di baliknya belum terbukti secara ilmiah. (red/akha)

*Artikel ini dirangkum dari berbagai sumber 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *