SUARASMR.NEWS JAKARTA – Di balik selembar kain batik, tersimpan cerita panjang tentang manusia, tradisi dan perjalanan sebuah daerah. Namun, ketika zaman berubah, tidak semua warisan batik mampu bertahan dalam ingatan masyarakat. Batik Kudus, Demak dan Banyumas adalah tiga di antaranya.
Pernah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat dan mengalami masa kejayaan, tradisi batik dari ketiga daerah tersebut perlahan meredup. Produksi menurun, regenerasi pembatik menghadapi tantangan dan minat generasi muda ikut berubah.
Padahal, setiap motif yang tergores pada kain bukan sekadar ornamen. Di dalamnya tersimpan jejak sejarah, kreativitas dan nilai budaya masyarakat yang melahirkannya.
Kurator Junior Museum Tekstil, Mutiara Zahwa Nauli Siregar, menjelaskan bahwa Kudus, Demak dan Banyumas merupakan sejumlah daerah yang dahulu aktif menghasilkan batik. Namun, memasuki periode 1960–1980-an, produksi batik di sejumlah wilayah tersebut mengalami penurunan cukup signifikan.
Perubahan dinamika pasar, pergeseran selera masyarakat, perubahan pola kehidupan serta semakin berkurangnya regenerasi pembatik menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi keberlanjutan tradisi tersebut.
Menurut Zahwa, kondisi tersebut membuat batik dari tiga daerah itu perlu kembali diperkenalkan kepada masyarakat luas. Bukan hanya karena nilai estetikanya, tetapi juga karena batik merupakan bagian dari identitas budaya Indonesia.
60 Koleksi Menghidupkan Kembali Batik yang Terlupakan : Semangat untuk menghidupkan kembali jejak tersebut menjadi salah satu alasan Museum Tekstil menghadirkan pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026.
Sebanyak 60 koleksi dipamerkan. Rinciannya terdiri atas 3 koleksi Batik Demak, 15 koleksi Batik Kudus dan 42 koleksi Batik Banyumas. Sebagian besar merupakan batik tulis yang berasal dari koleksi lama Museum Tekstil.
Pameran tersebut tidak hanya memperlihatkan keindahan kain, tetapi juga menunjukkan karakter khas masing-masing daerah. Batik Kudus, misalnya, dikenal melalui karakter motif yang besar dan berani. Motif tersebut berpadu dengan latar yang kaya isen-isen dan detail.
Salah satu koleksi yang ditampilkan berupa kain panjang batik tulis berbahan katun gaya kudusan dengan motif tanaman air, kyai janggar dan beras mawur.
Ada pula kain panjang pagi-sore sore bolak-balik dengan motif buket, burung, kupu-kupu dan sisik ulo. Sementara Batik Demak memperlihatkan karakter batik pesisir yang berpadu dengan stilisasi flora.
Salah satu koleksi yang dipamerkan berupa kain panjang pagi-sore, batik tulis berbahan katun dengan motif tabur bunga susymoyo lungkembang ukel tapaitik, ceplok nitik dan isen semarangan. Batik Banyumas memiliki karakter yang kuat melalui garis dan motif yang tegas.
Koleksinya antara lain kain panjang berbahan katun dengan motif lung-lungan, burung dengan latar andang mukti dan ukel. Selain itu, terdapat kain panjang batik tulis berbahan katun dengan motif Buketan Tambal.
Jejak Islam dalam Perjalanan Batik : Perjalanan batik di Kudus, Demak dan Banyumas juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan sosial dan budaya masyarakat setempat.
Zahwa menyebut ketiga daerah tersebut memiliki pengaruh Islam yang cukup kuat. Perkembangan tradisi batiknya juga berkaitan dengan tokoh-tokoh dan komunitas Muslim yang memiliki peran dalam perjalanan kebudayaan di wilayah tersebut.
Ia menyebut nama Sunan Kalijaga dalam konteks perkembangan budaya di Demak serta Najendra, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang kemudian menetap di Banyumas.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa batik berkembang seiring dengan dinamika masyarakat. Motif, teknik dan penggunaannya menjadi bagian dari perjalanan budaya yang terus berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menjaga Batik Tak Cukup dengan Menyimpan Kain : Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati, menegaskan bahwa pelestarian batik tidak cukup dilakukan dengan merawat dan menyimpan kainnya.
Pengetahuan yang berada di balik setiap kain juga perlu diselamatkan. Mulai dari pembuat, daerah asal, teknik pembuatan, motif, pewarnaan, fungsi hingga cerita masyarakat yang menyertainya perlu didokumentasikan.
Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang yang menghubungkan warisan masa lalu dengan perkembangan batik masa kini dan generasi mendatang.
Pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan warisan batik yang mulai jarang dikenal.
Pameran tersebut sekaligus membuka ruang untuk memahami perjalanan, keindahan dan tantangan keberlanjutan batik dari tiga daerah tersebut.
Sri mengatakan, meski masa kejayaan sejumlah tradisi batik mungkin telah berlalu, keterampilan, kreativitas dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya masih tetap hidup hingga sekarang.
Menunggu Generasi Baru Mencintai Batik : Momentum Hari Batik Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa batik bukan sekadar kain bermotif atau busana untuk dikenakan pada acara tertentu. Batik merupakan bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa yang menyimpan perjalanan panjang masyarakat Indonesia.
Karena itu, keberlangsungan batik tidak hanya bergantung pada pembatik, museum atau pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan mengenal, mencintai dan menggunakan produk budaya tersebut.
Pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” menjadi salah satu cara untuk mengembalikan perhatian publik terhadap tiga tradisi batik yang pernah mengalami masa kejayaan.
Masyarakat dapat melihat langsung koleksi tersebut di Museum Tekstil Jakarta hingga 2 November 2026. Sebab, warisan budaya tidak akan benar-benar hidup hanya karena disimpan. Ia akan tetap hidup ketika dikenali, dipahami dan diwariskan kembali kepada generasi berikutnya. (red/ria)











