Ribuan Perempuan Jadi Ojol di Surabaya, Bertaruh Nyawa Demi Keluarga: Bantuan Saja Tak Lagi Cukup

oleh

SUARASMR.NEWS SURABAYA – Di balik padatnya lalu lintas Kota Surabaya, tersimpan potret perjuangan yang jarang menjadi sorotan. Ribuan perempuan kini memilih mengaspal sebagai pengemudi ojek daring, bukan karena hobi atau tren, melainkan karena tuntutan hidup yang semakin keras.

Mereka bukan sekadar mengantar penumpang atau makanan. Mereka sedang mempertaruhkan keselamatan setiap hari demi memastikan dapur tetap mengepul, anak tetap bersekolah, dan keluarga mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi.

banner 930x110

Fenomena ini menandai perubahan besar dalam wajah ekonomi perkotaan. Profesi yang selama bertahun-tahun didominasi laki-laki kini menjadi pilihan terakhir bagi banyak perempuan ketika pekerjaan formal semakin sulit diperoleh.

Namun, di balik fleksibilitas yang sering dipromosikan platform digital, tersimpan kenyataan pahit. Penghasilan bergantung pada jumlah pesanan, tidak ada kepastian pendapatan, sementara risiko kecelakaan dan ancaman kriminalitas selalu mengintai di jalan.

Data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Surabaya mencatat terdapat sekitar 21.000–22.000 pengemudi ojek daring di Surabaya. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 1.008 merupakan perempuan.

Angka itu memang belum mendominasi, tetapi menjadi sinyal bahwa perempuan kini memegang peran penting dalam menjaga roda ekonomi keluarga di era digital.

Banyak dari mereka adalah ibu rumah tangga yang harus bekerja setelah suami kehilangan pekerjaan, perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, hingga istri yang rela membagi waktu antara mencari nafkah dan mengurus anak.

Bantuan Sosial Tak Akan Menyelesaikan Persoalan

Selama ini perhatian terhadap pengemudi ojek daring lebih banyak diwujudkan dalam bentuk bantuan sosial atau pembagian perlengkapan kerja. Sayangnya, pendekatan seperti itu dinilai belum menyentuh akar persoalan.

Persoalan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan mereka memiliki perlindungan kerja, pendapatan yang lebih stabil, keterampilan baru, hingga kesempatan membangun usaha yang mampu menopang ekonomi keluarga.

Baca Juga :  Kemenkum Bali Getarkan Spirit Integritas, ASN Diajak Bangun Karakter Tangguh Lewat Pendekatan Psikologis

Pemerintah Kota Surabaya mulai mengubah arah kebijakan. Perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan diberikan sebagai benteng agar keluarga tidak langsung jatuh miskin ketika pencari nafkah mengalami kecelakaan kerja atau meninggal dunia.

Pelatihan Tanpa Pendampingan Berisiko Menjadi Seremonial: Pemerintah juga mulai mendorong pengemudi perempuan memiliki keterampilan tambahan, seperti menjahit, tata rias, hingga usaha rumahan.

Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pelatihan tidak selalu berujung pada peningkatan kesejahteraan.

Tidak sedikit peserta yang telah memperoleh pelatihan maupun bantuan alat usaha, tetapi akhirnya gagal berkembang karena minim pendampingan, sulit menembus pasar, hingga kurang memiliki kemampuan mengelola usaha.

Memberikan mesin jahit memang mudah. Namun membangun mental wirausaha, memperluas jaringan pemasaran, dan memastikan usaha mampu bertahan selama bertahun-tahun jauh lebih sulit.

Tanpa pendampingan berkelanjutan, program pemberdayaan berisiko hanya menjadi kegiatan seremonial yang berhenti setelah dokumentasi selesai.

Pemberdayaan perempuan tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah. Platform digital perlu memperkuat sistem keselamatan dan literasi keuangan. Dunia usaha harus membuka akses pasar.

Perguruan tinggi perlu menghadirkan pendampingan bisnis berbasis teknologi. Sementara lembaga keuangan harus memberikan akses pembiayaan yang mudah sekaligus edukasi pengelolaan usaha.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar perempuan tidak sekadar bertahan hidup, tetapi mampu naik kelas menjadi pelaku usaha yang mandiri. Membangun kemandirian, bukan ketergantungan

Keberhasilan sebuah program pemberdayaan seharusnya tidak lagi diukur dari banyaknya bantuan yang dibagikan atau jumlah peserta pelatihan.

Yang jauh lebih penting adalah berapa banyak keluarga yang berhasil keluar dari tekanan ekonomi, berapa perempuan yang mampu membangun usaha mandiri, serta berapa banyak pengemudi yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pekerjaan berisiko di jalan.

Ketika seorang ibu memiliki perlindungan kerja, keterampilan, akses permodalan, dan peluang usaha yang berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan dirinya sendiri, tetapi juga anak-anak, keluarga, dan masa depan kota.

Baca Juga :  Museum Keris Nusantara Gegerkan Surakarta! Gelar Vlog Competition: Museumku, Rumah Inspirasiku dengan Hadiah Puluhan Juta

Perempuan pengemudi ojek daring bukan sekadar pengendara motor di jalanan Surabaya. Mereka adalah simbol ketangguhan yang sedang melawan kerasnya kehidupan.

Kini, tantangannya bukan lagi bagaimana memberi bantuan sesaat, melainkan bagaimana menghadirkan kebijakan yang benar-benar mampu mengubah perjuangan mereka menjadi kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *