SUARASMR.NEWS – Di tengah lautan manusia yang memadati pelataran suci Masjidil Haram, para pewarta yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) ternyata tak hanya bertugas memburu berita.
Di balik kamera, laptop, dan mikrofon yang mereka genggam, tersimpan pengabdian yang jauh lebih besar, menjadi penyelamat bagi ribuan jamaah haji Indonesia yang kebingungan di Tanah Suci.
Mereka datang sebagai jurnalis. Namun, di Makkah, mereka berubah menjadi petugas serbabisa.
Setiap hari, para pewarta MCH harus berjibaku di tengah kepadatan ekstrem Masjidil Haram. Bukan sekadar mencari sudut terbaik untuk liputan atau mengejar narasumber penting.
Akan mereka justru lebih sering dihentikan oleh jamaah yang panik, tersesat, kelelahan, hingga menangis kehilangan keluarga.
Seragam cokelat petugas haji yang melekat di tubuh mereka seolah menjadi magnet harapan bagi jamaah Indonesia.
“Pak, terminal pulangnya di mana?”
“Bu saya hilang dari rombongan…”
“Tolong cari suami saya…”
“Saya tidak tahu jalan kembali ke hotel…”
Kalimat-kalimat itu nyaris tak pernah berhenti terdengar di sela tugas jurnalistik mereka. Di tengah kerasnya tekanan deadline berita, para pewarta ini rela menunda liputan demi membantu jamaah yang kebingungan.
Ada yang mengantar lansia menggunakan kursi roda, membantu jamaah menarik uang riyal di ATM, mencarikan sandal yang hilang usai tawaf, hingga menuntun jamaah yang nyaris tumbang akibat kelelahan di bawah sengatan matahari Makkah.
Fenomena paling menyita tenaga terjadi saat ribuan jamaah Indonesia kebingungan mencari akses transportasi pulang menuju hotel.
Banyak yang belum memahami jalur menuju tiga terminal utama di sekitar Masjidil Haram, yakni Terminal Syib Amir, Terminal Ajyad, dan Terminal Jabal Ka’bah, tempat bus Shalawat siaga 24 jam secara gratis.
Akibatnya, jamaah sering terseret arus manusia dan salah arah. Yang seharusnya menuju Terminal Syib Amir justru berakhir di Ajyad. Ada pula rombongan yang terpisah karena hanya mengikuti langkah jamaah di depannya tanpa memahami rute sebenarnya.
Dalam situasi seperti itulah jurnalis MCH turun tangan. Mereka rela berjalan bolak-balik dari pelataran Masjidil Haram menuju terminal demi memastikan jamaah Indonesia bisa kembali ke hotel dengan selamat.
Tugas jurnalistik pun sering kali harus “dikorbankan” demi sebuah misi kemanusiaan. Tak sedikit momen ketika kamera harus disimpan, laptop ditutup, dan proses pengiriman berita tertunda karena ada jamaah yang lebih membutuhkan pertolongan.
Di tengah hiruk-pikuk ibadah haji terbesar di dunia, para jurnalis ini bukan hanya menjadi saksi perjalanan spiritual jamaah. Mereka juga menjelma menjadi garda terdepan pelayanan, sosok yang hadir saat jamaah kehilangan arah dan harapan di negeri orang.
Mereka memang datang untuk memberitakan ibadah haji. Namun pada akhirnya, merekalah “malaikat penolong” yang diam-diam menjaga ribuan jamaah Indonesia di jantung Kota Suci Makkah. (red/akha)











