SUARASMR.NEWS, TRENGGALEK — Perum Bulog Jawa Timur tancap gas memperkuat benteng ketahanan pangan. Tak mau mengambil risiko di tengah ancaman kemarau panjang dan potensi El Niño, Bulog menyewa 269 gudang tambahan di berbagai wilayah Jawa Timur, termasuk sub-gudang di Desa Wonoanti, Kabupaten Trenggalek.
Langkah besar ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan hasil panen sekaligus memastikan cadangan beras tetap aman ketika produksi pertanian menghadapi tekanan cuaca.
Kepala Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan penambahan gudang merupakan konsekuensi dari tingginya penyerapan gabah dan beras petani.
“Gudang Bulog sendiri ada 352, ditambah sekarang kita sudah sewa 269 unit gudang. Jadi kita hampir dua juta ton sanggup untuk stok yang kita kuasai,” ujar Langgeng saat peresmian sub-gudang Bulog di Wonoanti, Trenggalek, Senin (10/8/2026).
Angka tersebut menunjukkan betapa seriusnya Bulog membangun kapasitas penyimpanan pangan di Jawa Timur. Bahkan, jumlah gudang masih memungkinkan bertambah apabila volume panen berikutnya kembali meningkat.
“Kalau nanti panen yang kedua bagus, kita pasti akan menyewa lagi kalau memang dibutuhkan,” tegasnya.
Bulog tidak sekadar mengejar jumlah gudang. Penyebaran titik penyimpanan menjadi strategi penting agar hasil panen petani dapat diserap lebih cepat dan cadangan pangan bisa didistribusikan secara efisien.
Sub-gudang Wonoanti menjadi salah satu simpul penting, terutama untuk memperkuat jaringan logistik pangan di kawasan selatan Jawa Timur.
Pengisian gudang juga melibatkan mitra penggilingan lokal. Dengan demikian, hasil panen tidak harus menempuh jalur panjang sebelum masuk ke dalam sistem cadangan pangan pemerintah.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa keberadaan gudang di wilayah selatan sangat penting, terutama untuk menghadapi ancaman kekeringan.
“Trenggalek ini daerah yang juga harus bisa terjangkau. Dia kabupaten yang berlokasi di selatan dan di sini ada gudang yang dikerjasamakan,” kata Emil.
Menurut Emil, pemerataan jaringan penyimpanan menjadi sangat strategis karena Jawa Timur merupakan salah satu penyangga utama cadangan beras nasional.
Saat ini, stok beras yang dikuasai Bulog Jawa Timur mencapai sekitar 1,3 juta ton, atau sekitar seperempat dari total cadangan beras nasional yang telah menembus lebih dari 5 juta ton.
Empat Gudang Baru Segera Dibangun : Tak berhenti pada sistem sewa, Bulog juga menyiapkan pembangunan gudang permanen sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Dari rencana pembangunan 100 gudang Bulog secara nasional, empat di antaranya akan dibangun di Jawa Timur, yakni di Bojonegoro, Sampang, Jember, dan Banyuwangi.
Langgeng menegaskan, skema sewa tetap akan menjadi instrumen fleksibel untuk merespons kebutuhan di lapangan.
“Kalau gudang yang bisa disewa pasti akan kita sewa apabila memang sudah diperlukan,” ujarnya.
Penyerapan Tembus 927 Ribu Ton, Target Sudah Terlewati : Penguatan gudang tersebut tidak terlepas dari agresifnya Bulog menyerap hasil panen petani.
Hingga 9 Agustus 2026, Bulog Jawa Timur telah menyerap sekitar 927 ribu ton gabah dan beras, melampaui target penyerapan yang ditetapkan sebesar 883 ribu ton.
Artinya, penyerapan telah melewati target semester pertama. Namun, Bulog memastikan langkah tersebut belum berhenti karena produksi dari periode panen berikutnya tetap harus diantisipasi.
Menurut Langgeng, keberhasilan penyerapan juga tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah, TNI dan Polri serta semakin terbentuknya ekosistem penyerapan gabah di tingkat petani.
Jawa Timur mulai memasuki musim kemarau dan potensi El Niño menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kekeringan. Jika produksi pertanian terganggu, pasokan pangan dan harga beras berpotensi ikut terdampak.
Emil menilai cadangan beras yang kuat merupakan salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga kesinambungan pasokan sekaligus mengendalikan inflasi.
Namun, persoalan tidak berhenti pada ketersediaan stok. Harga di tingkat petani dan konsumen juga harus dijaga agar tetap seimbang.
Emil menyoroti harga gabah di sejumlah daerah yang telah mencapai lebih dari Rp8.000 per kilogram.
“Kita tentu ingin petani sejahtera, tetapi harga di tingkat konsumen juga harus dipantau agar jangan sampai terjadi inflasi yang memberatkan rumah tangga,” katanya.
Dengan 352 gudang milik sendiri, 269 gudang sewaan, stok sekitar 1,3 juta ton di Jawa Timur, serta penyerapan yang telah menembus 927 ribu ton, Bulog kini tengah mempertebal pagar ketahanan pangan Jawa Timur.
Di tengah ancaman kemarau dan potensi gangguan produksi, pertaruhan berikutnya bukan sekadar seberapa banyak beras berhasil diserap.
Pertaruhan sesungguhnya adalah memastikan beras tetap tersedia, harga tetap terkendali, petani tetap sejahtera, dan masyarakat tidak menjadi korban ketika cuaca mulai menguji ketahanan pangan. (red/aden)












