SUARASMR.NEWS SURABAYA – Musim kemarau bukan hanya persoalan panas dan minimnya hujan. Di balik udara yang kering, masyarakat juga perlu mewaspadai berbagai risiko terhadap kesehatan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap ketersediaan air, kualitas udara dan kondisi kesehatan.
Memasuki September, kondisi kering masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam prakiraan periode 11–17 September 2026, BMKG juga melaporkan masih adanya sebaran asap dan titik panas di beberapa wilayah, meski peluang hujan lokal tetap ada.
Jangan Tunggu Tubuh Mengeluh : Cuaca panas dan udara kering dapat membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan. Karena itu, minum air yang cukup menjadi salah satu langkah paling sederhana tetapi penting untuk menjaga kondisi tubuh.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan juga sebaiknya menghindari paparan panas berlebihan, khususnya pada periode terik.
Gunakan pakaian yang nyaman, pelindung kepala dan perlindungan kulit ketika berada di bawah sinar matahari dalam waktu lama.
Tak kalah penting, masyarakat perlu memperhatikan kondisi udara. Musim kemarau dapat meningkatkan debu dan, di wilayah tertentu, asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
BMKG sendiri mengingatkan pemerintah daerah agar mengantisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu ISPA, terutama ketika kondisi kering dan kebakaran hutan serta lahan terjadi.
Anak-anak dan Lansia Perlu Mendapat Perhatian : Kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia perlu mendapat perhatian lebih selama cuaca panas dan kering. Begitu pula masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan.
Keluarga sebaiknya memastikan anggota keluarga cukup minum, memperoleh makanan bergizi dan beristirahat dengan cukup. Ketika muncul keluhan kesehatan yang tidak membaik atau semakin berat, jangan menunda untuk mendapatkan pertolongan medis.
Kemarau Tak Bisa Dihindari, Dampaknya Bisa Diantisipasi : BMKG menyebut kondisi kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Faktor El Niño juga menjadi salah satu dinamika iklim yang perlu diwaspadai hingga awal 2027.
Karena itu, menjaga kesehatan selama kemarau bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi cuaca.
Kemarau boleh datang, tetapi kesehatan jangan sampai dikorbankan. Jaga cairan tubuh, kurangi paparan panas berlebihan, lindungi pernapasan dari debu dan asap, serta pantau terus informasi cuaca dari sumber resmi BMKG. (red/akha)
Sumber: BMKG.










