SUARASMR.NEWS MALANG – Di kawasan Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang, terdapat sebuah pohon yang sejak lama menarik perhatian para peziarah. Pohon tersebut dikenal sebagai Dewandaru, yang oleh sebagian masyarakat dianggap memiliki nilai istimewa dan sarat dengan kisah turun-temurun.
Keberadaan pohon Dewandaru tidak bisa dilepaskan dari sejarah Pesarean Gunung Kawi. Kawasan ini dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Eyang Jugo atau Kiai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono atau Eyang Sujo, dua tokoh yang dihormati masyarakat karena perjuangan dan keteladanannya.
Berawal dari Kisah Tongkat Eyang Jugo : Di tengah masyarakat berkembang cerita bahwa pohon Dewandaru yang berada di kompleks pesarean berasal dari tongkat milik Eyang Jugo yang ditancapkan ke tanah dan kemudian tumbuh menjadi pohon.
Kisah tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari cerita yang menyelimuti keberadaan pohon Dewandaru di Gunung Kawi. Karena itulah, pohon ini tidak sekadar dipandang sebagai tanaman, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah dan budaya yang berkembang di kawasan pesarean.
Dalam perkembangannya, masyarakat kemudian mengenal kepercayaan bahwa daun atau buah Dewandaru yang jatuh dan didapatkan seseorang dapat menjadi pertanda keberuntungan atau membawa berkah.
Kepercayaan tersebut membuat daun dan buah yang jatuh dari pohon ini dahulu cukup diburu para peziarah. Namun, tidak semua pengunjung datang dengan tujuan tersebut. Banyak pula yang berziarah untuk mendoakan Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono serta mengenang perjuangan keduanya.
Bukan Sekadar Pohon Keramat : Di balik cerita mistis dan kepercayaan yang berkembang, Dewandaru sebenarnya merupakan tanaman yang memiliki nama ilmiah Eugenia uniflora. Tanaman ini bukan berasal dari Indonesia, melainkan berasal dari kawasan Amerika Selatan, termasuk Brasil, Uruguay, dan Suriname.
Buahnya dapat berwarna merah hingga jingga ketika matang. Tanaman ini juga dikenal dalam pengobatan tradisional dan memiliki kandungan senyawa yang menarik untuk dikaji, meski manfaat kesehatan tertentu tetap membutuhkan penelitian ilmiah lebih lanjut.
Dengan demikian, keberadaan Dewandaru di Pesarean Gunung Kawi menarik bukan hanya karena cerita yang berkembang di masyarakat, tetapi juga karena tanaman tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan budaya kawasan tersebut.
Simbol Harapan yang Terus Hidup : Seiring waktu, cerita mengenai Dewandaru berkembang menjadi bagian dari identitas Gunung Kawi. Bagi sebagian masyarakat, daun atau buah yang jatuh dari pohon dipandang sebagai simbol keberuntungan.
Namun bagi sebagian lainnya, keberadaan pohon tersebut lebih tepat dilihat sebagai warisan budaya dan cerita rakyat yang perlu dipahami dalam konteks sejarahnya.
Pesarean Gunung Kawi sendiri memiliki wajah yang jauh lebih luas daripada sekadar berbagai mitos yang beredar. Kawasan ini merupakan ruang ziarah, pertemuan budaya, sekaligus tempat masyarakat mengenang tokoh-tokoh yang dihormati.
Pohon Dewandaru akhirnya menjadi salah satu bagian paling menarik dari kisah tersebut sebuah pohon yang mempertemukan sejarah, tradisi, kepercayaan masyarakat, dan cerita turun-temurun.
Apa pun keyakinan seseorang terhadap kisah Dewandaru, satu hal yang tidak terbantahkan: pohon itu telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat dan turut mewarnai perjalanan panjang Pesarean Gunung Kawi. (red/agus)










