Sarapan Sehat, Olahraga, dan Tidur Cukup Jadi Kunci Melawan Stres, Ini Temuan Peneliti

oleh

SUARASMR.NEWS JAKARTA – Menghadapi stres tak cukup hanya dengan menguatkan pikiran. Kebiasaan sederhana seperti sarapan sehat, rutin berolahraga, dan tidur malam yang cukup ternyata berkaitan dengan kemampuan seseorang mengendalikan emosi dan menghadapi tekanan hidup.

Temuan tersebut diungkap dalam penelitian terbaru dari Binghamton University, Amerika Serikat. Penelitian ini menyoroti pentingnya fleksibilitas psikologis, yakni kemampuan menyesuaikan pikiran, emosi, dan perilaku secara sehat ketika menghadapi perubahan maupun situasi sulit.

banner 930x110

Profesor studi kesehatan dan kebugaran Binghamton University sekaligus penulis utama penelitian, Lina Begdache, PhD, menjelaskan bahwa pola makan dan gaya hidup sehat bukan satu-satunya faktor yang membuat seseorang tangguh

Namun, keduanya berperan dalam membangun fleksibilitas psikologis yang membantu seseorang menghadapi tantangan dengan lebih baik.

“Keduanya membantu membangun fleksibilitas psikologis yang kemudian menjadikan seseorang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan,” kata Begdache, sebagaimana dilaporkan RealSimple, Sabtu (24/10).

Dalam penelitian tersebut, para peneliti melakukan survei anonim terhadap 400 mahasiswa. Mereka mengumpulkan informasi mengenai pola makan, kebiasaan tidur, aktivitas fisik, serta sejumlah faktor gaya hidup lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan, sejumlah kebiasaan sehat berkaitan dengan fleksibilitas psikologis dan ketahanan mental yang lebih baik. Empat Kebiasaan Sehat yang Berkaitan dengan Ketahanan Mental tersebut meliputi:

– Sarapan rutin: lima kali atau lebih dalam seminggu.

– Tidur cukup: setidaknya enam jam setiap malam.

– Olahraga teratur: selama 20 menit atau lebih setiap hari.

– Konsumsi minyak ikan: dilakukan setiap hari.

Temuan ini mengindikasikan bahwa rutinitas sehari-hari tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga berhubungan dengan cara seseorang merespons tekanan dan mengelola emosinya.

banner 930x110

Meski demikian, penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan sehat dan fleksibilitas psikologis, bukan membuktikan bahwa kebiasaan tersebut secara langsung menyebabkan seseorang menjadi lebih tangguh.

Baca Juga :  Kisah Inspiratif: Filosofi Orang Bali Soal Toleransi dan Fokus Hidup

Tetap Tenang Saat Menghadapi Tekanan: Begdache memberikan gambaran sederhana tentang perbedaan orang yang memiliki fleksibilitas psikologis tinggi dan rendah.

Seseorang yang ketinggalan pesawat, misalnya, tentu bisa merasa kecewa dan stres. Namun, alih-alih larut dalam kepanikan, ia mampu menerima keadaan, mencari alternatif perjalanan, dan menentukan langkah berikutnya.

“Orang tersebut mungkin tetap merasa stres, tetapi lebih mampu mengelolanya berkat fleksibilitas psikologis,” ujarnya.

Sebaliknya, orang dengan fleksibilitas psikologis rendah cenderung lebih sulit mengambil jarak dari emosi yang dirasakan. Tekanan yang muncul dapat membuat seseorang seolah-olah tenggelam dalam stres tanpa mampu melihat persoalan secara lebih jernih.

Menurut Begdache, fleksibilitas psikologis membantu seseorang berhenti sejenak, mengenali penyebab emosinya, kemudian memikirkan tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Dengan cara ini, stres tidak selalu harus dihilangkan sepenuhnya. Yang lebih penting adalah kemampuan mengelolanya agar tidak menguasai pikiran dan perilaku.

Mulai dari Kebiasaan Kecil: Kemampuan mengenali emosi dan menilai apakah suatu masalah dapat diselesaikan menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan hidup.

Kebiasaan sehat yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi salah satu bagian dari upaya membangun kemampuan tersebut. Karena itu, perubahan tidak harus dimulai dari langkah besar.

Membiasakan sarapan bergizi, menyediakan waktu untuk berolahraga, dan menjaga jadwal tidur bisa menjadi langkah awal untuk mendukung kesehatan fisik sekaligus kesejahteraan psikologis.

Namun, kebutuhan tidur setiap orang berbeda, dan enam jam bukanlah patokan ideal bagi semua orang dewasa. Secara umum, orang dewasa dianjurkan tidur setidaknya tujuh jam setiap malam.

Pesan utama penelitian ini jelas, menghadapi stres bukan semata-mata soal seberapa kuat seseorang bertahan, melainkan juga bagaimana ia merawat tubuh, mengenali emosinya, dan mengambil keputusan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. (red/niluh ishanori)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *