SUARASMR.NEWS JAKARTA – Indonesia kian serius membidik pasar fesyen Muslim dunia. Melalui kolaborasi Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2Motion Fest) 2026 dan Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026, pemerintah berupaya menjadikan Jakarta sebagai magnet wisata belanja sekaligus memperluas penetrasi produk fesyen lokal ke pasar internasional.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai, festival fesyen tersebut bukan sekadar panggung untuk memamerkan koleksi desainer. Lebih dari itu, ajang ini menjadi pintu masuk untuk mempertemukan kreativitas anak bangsa dengan peluang bisnis global, sekaligus menggerakkan ekonomi pariwisata.
“Indonesia memiliki kekayaan wastra, mulai dari batik, tenun, hingga beragam tekstil tradisional Nusantara,” kata Widiyanti saat membuka IN2Motion Fest 2026 di Jakarta, Rabu (15/10/2026).
Menurutnya, peragaan busana, pameran dagang, dan penjajakan kerja sama bisnis dapat meningkatkan eksposur jenama lokal, membuka kemitraan baru, mendorong transaksi, serta menarik lebih banyak wisatawan untuk datang dan berbelanja di Jakarta.
Pasar Fesyen Muslim Global Tembus Rp6.000 Triliun? Potensi pasar yang dibidik bukan angka kecil. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2024–2025, belanja konsumen Muslim global untuk produk fesyen diproyeksikan mencapai 433 miliar dolar AS pada 2028.
Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp6.900 triliun jika menggunakan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS. Angka ini merupakan proyeksi belanja konsumen global, bukan nilai pasar yang otomatis akan dikuasai Indonesia.
Widiyanti menilai, peluang tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat modest fashion dunia.
Dengan kekayaan budaya, kreativitas desainer, serta keunikan produk lokal, Indonesia memiliki modal untuk memperluas jangkauan bisnis dan meningkatkan pengakuan internasional.
Namun, peluang besar itu membutuhkan langkah konkret. Produk lokal harus mampu menjaga kualitas, mengikuti perkembangan tren, memperkuat identitas merek, dan menjangkau pembeli mancanegara agar tidak sekadar menjadi peserta dalam persaingan global.
Batik dan Tenun Jadi Senjata Ekonomi Kreatif: Kekuatan fesyen Indonesia tidak hanya terletak pada desain modern, tetapi juga pada warisan budaya yang melekat dalam setiap helai kain Nusantara.
Batik, tenun, dan tekstil tradisional dapat dikembangkan menjadi koleksi modest fashion yang inovatif, kompetitif, sekaligus memiliki karakter Indonesia. Perpaduan warisan budaya dan kreativitas tersebut berpotensi memberikan nilai tambah bagi produk fesyen lokal.
Dampaknya pun dapat meluas ke sektor lain. Kehadiran desainer, pembeli, media, dan pengunjung dalam festival ini membuka peluang bagi perhotelan, kuliner, transportasi, hingga sektor ritel.
Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ajang semacam ini juga menjadi kesempatan memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas, menjalin kemitraan, serta membuka akses ke jaringan perdagangan internasional.
Wisatawan Diajak Menelusuri Jejak Wastra Nusantara: Kementerian Pariwisata juga melihat fesyen sebagai jembatan untuk memperkenalkan destinasi wisata budaya Indonesia.
Ketertarikan wisatawan terhadap produk berbasis wastra Nusantara dapat mendorong mereka mengunjungi sentra kerajinan tradisional, menyaksikan proses pembuatan kain, berinteraksi langsung dengan perajin, hingga membeli produk autentik dari daerah asalnya.
Pola perjalanan seperti ini berpotensi menciptakan pengalaman wisata yang lebih mendalam sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Dengan demikian, promosi fesyen tidak berhenti pada penjualan pakaian. Di balik setiap produk, terdapat cerita budaya, keterampilan perajin, identitas daerah, dan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Widiyanti menegaskan, kolaborasi industri fesyen dan pariwisata diharapkan mampu memperluas pasar produk kreatif Indonesia sekaligus meningkatkan apresiasi dunia terhadap keragaman budaya. (red/ria)











