SUARASMR.NEWS JAKARTA – Banyak orang mengira pertolongan pertama hanya dibutuhkan saat terjadi kecelakaan. Padahal, seseorang yang tiba-tiba tidak sadarkan diri akibat henti jantung atau henti napas membutuhkan penanganan yang jauh lebih mendesak.
Dalam kondisi seperti ini, Bantuan Hidup Dasar (BHD) dapat menjadi penentu antara hidup dan mati.
Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Muhadi, Sp.PD, K-Kv, FINASIM, M.Epid, menjelaskan bahwa BHD merupakan tindakan penyelamatan awal yang dilakukan untuk mempertahankan kehidupan korban hingga bantuan medis tiba.
Menurut dr. Muhadi, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda seseorang yang membutuhkan BHD. Kondisi paling umum adalah ketika seseorang tiba-tiba kehilangan kesadaran dan tidak menunjukkan tanda-tanda bernapas.
“Jika seseorang tidak sadar dan tidak ada gerakan dada, besar kemungkinan ia mengalami henti napas atau henti jantung. Kondisi ini membutuhkan tindakan segera,” ujarnya usai kegiatan EIMED untuk Komunitas di Jakarta, Sabtu.
Ia menegaskan bahwa BHD berbeda dengan pertolongan pertama pada korban kecelakaan. Tidak semua korban kecelakaan mengalami henti jantung atau kehilangan kesadaran. Karena itu, masyarakat harus mampu membedakan kondisi yang membutuhkan resusitasi dengan cedera biasa.
Otak Mulai Rusak Setelah Empat Menit
Dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh Emergency in Internal Medicine (EIMED) PAPDI bersama komunitas SEHATARA, dokter spesialis penyakit dalam dr. Anastasia Asylia Dinakrisma, Sp.PD, K-Ger, FINASIM, mengingatkan bahwa waktu menjadi faktor paling krusial saat seseorang mengalami henti jantung.
Menurutnya, ketika jantung berhenti berdetak, aliran darah yang membawa oksigen ke otak juga ikut terhenti. Jika kondisi ini dibiarkan, kerusakan otak dapat mulai terjadi hanya dalam waktu sekitar empat menit.
“Karena tidak ada darah yang mengalir ke otak, kita harus segera melakukan Bantuan Hidup Dasar agar otak tidak mengalami kerusakan permanen sambil menunggu tenaga medis datang,” jelasnya.
Langkah Awal yang Harus Dilakukan
Anastasia menjelaskan, langkah pertama sebelum memberikan pertolongan adalah memastikan lokasi kejadian aman bagi korban maupun penolong. Jika korban berada di tempat berbahaya, seperti lokasi kebakaran atau area berisiko lainnya, korban harus dipindahkan terlebih dahulu ke tempat yang aman.
Setelah itu, penolong perlu memeriksa respons korban dengan menepuk bahu atau memberikan rangsangan ringan pada tulang dada. Bila korban tidak memberikan respons, segera minta orang lain menghubungi layanan darurat 119.
Selanjutnya, periksa pernapasan korban selama maksimal 10 detik dengan melihat gerakan dada dan merasakan hembusan napas. Bila korban tidak bernapas, segera lakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau kompresi dada sebagai bagian dari Bantuan Hidup Dasar hingga tenaga medis tiba.
PAPDI Dorong Masyarakat Kuasai BHD: Melalui Badan Khusus Emergency in Internal Medicine (EIMED), PAPDI terus memperluas edukasi Bantuan Hidup Dasar kepada masyarakat, termasuk penyandang disabilitas tuli melalui komunitas SEHATARA.
Program ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kondisi henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest). Dengan semakin banyak warga yang memahami teknik dasar penyelamatan, peluang korban untuk bertahan hidup sebelum mendapat penanganan medis akan semakin besar.
PAPDI berharap kemampuan memberikan Bantuan Hidup Dasar tidak hanya dimiliki tenaga kesehatan, tetapi juga masyarakat umum. Sebab, tindakan sederhana yang dilakukan dengan cepat dan benar dapat menjadi penyelamat nyawa seseorang dalam situasi darurat. (red/hil)










