SUARASMR.NEWS SURABAYA – Ada manusia yang begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi begitu sulit melihat kekurangan dirinya sendiri. Ia merasa paling benar, paling baik, paling tahu, bahkan merasa memiliki hak untuk menilai dan merendahkan kehidupan orang lain.
Dalam Islam, sikap seperti ini bukanlah tanda kemuliaan. Justru, merasa diri lebih baik daripada orang lain dapat menjadi pintu menuju kesombongan yang sangat berbahaya.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an : “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini sangat jelas. Orang yang kita remehkan belum tentu lebih rendah di hadapan Allah. Bisa jadi justru ia memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena keikhlasan, kesabaran, atau amal yang tidak pernah kita ketahui.
Menyalahkan orang lain tidak selalu membuat kita benar. Dalam kehidupan, terkadang kita terlalu sibuk mencari siapa yang salah daripada mencari apa yang harus diperbaiki.
Menyalahkan orang lain memang mudah. Mengakui kesalahan diri sendiri membutuhkan kerendahan hati. Padahal, salah satu bentuk kedewasaan seorang Muslim adalah mampu berkata: “Mungkin aku juga salah. Mungkin ada bagian dari diriku yang harus diperbaiki.”
Kalimat sederhana tersebut jauh lebih mulia daripada memenangkan perdebatan dengan cara merendahkan orang lain. Sebab, tujuan hidup seorang Muslim bukan menjadi manusia yang selalu terlihat benar di hadapan manusia, tetapi menjadi hamba yang benar di hadapan Allah.
Jangan meremehkan seseorang hanya karena keadaannya. Jangan menilai seseorang dari hartanya. Jangan menilai seseorang dari pekerjaannya. Jangan menilai seseorang dari masa lalunya. Jangan pula merasa lebih tinggi hanya karena pendidikan, jabatan, penampilan, keluarga, atau kedudukan sosial.
Dalam Islam, kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh apa yang tampak di mata manusia. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Takwa adalah urusan hati yang paling dalam. Manusia hanya melihat permukaan, sedangkan Allah mengetahui semuanya.
Sebelum menunjuk kesalahan orang lain, bercerminlah Barangkali orang yang paling membutuhkan nasihat kita bukanlah orang lain, tetapi diri kita sendiri.
Sebelum mengatakan seseorang buruk, tanyakan kepada diri: Apakah aku sudah benar-benar baik.
Sebelum meremehkan orang lain, tanyakan: Apakah aku yakin kedudukanku lebih tinggi di hadapan Allah?
Sebelum menyalahkan seseorang, tanyakan: Apakah aku sudah benar-benar memahami seluruh keadaannya?
Dan sebelum merasa paling benar, ingatlah bahwa kita semua hanyalah manusia yang sedang berjalan menuju kematian dengan membawa amal masing-masing.
Jangan terlalu sibuk menghitung dosa orang lain sampai lupa menghitung dosa sendiri. Jangan terlalu tinggi menilai diri sendiri, karena hanya Allah yang benar-benar mengetahui siapa yang paling mulia.
Pada akhirnya, orang yang benar-benar baik biasanya tidak merasa perlu mengatakan bahwa dirinya paling baik. Ia memilih rendah hati. Ia menasihati tanpa menghina. Ia mengingatkan tanpa merendahkan. Ia melihat kesalahan orang lain dengan kasih sayang, karena ia sadar bahwa dirinya pun masih membutuhkan ampunan Allah.
Sebab dalam perjalanan menuju Allah, kita bukan sedang berlomba untuk menjadi lebih tinggi daripada manusia lain, tetapi sedang berusaha menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin. (red/akha)











