SUARASMR.NEWS JAKARTA – Jangan buru-buru merasa lega ketika demam penderita demam berdarah dengue (DBD) tiba-tiba turun. Di balik suhu tubuh yang kembali normal, justru bisa muncul fase paling berbahaya yang berpotensi menyebabkan syok, perdarahan berat hingga gangguan organ.
Peringatan ini disampaikan dokter sekaligus kreator konten kesehatan dr. Gia Pratama Putra. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala awal DBD karena penyakit yang disebabkan virus dengue tersebut kerap menyerupai flu atau demam biasa.
“Pada fase awal, DBD dapat sulit dibedakan dari penyakit demam lainnya,” kata dr. Gia sebagaimana dikutip dalam siaran pers Takeda, Sabtu (5/9/2026).
Gejala yang patut diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak, menggigil, tubuh lemas, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, mual, muntah, hingga tanda perdarahan seperti mimisan, gusi berdarah, serta munculnya bintik-bintik merah atau ruam pada kulit.
Menurut informasi Siloam Hospitals, fase demam pada DBD umumnya berlangsung selama dua hingga tujuh hari. Suhu tubuh bahkan dapat mendekati 40 derajat Celsius. Namun, bahaya tidak berhenti ketika demam mereda.
Memasuki sekitar hari ketiga hingga ketujuh, pasien dapat masuk ke fase kritis yang ditandai dengan turunnya suhu tubuh hingga sekitar 37,5–38 derajat Celsius atau lebih rendah. Pada fase ini, jumlah trombosit dapat mengalami penurunan secara cepat.
Jika tidak mendapat penanganan yang tepat, kondisi pasien dapat memburuk dalam waktu singkat dan berkembang menjadi syok, perdarahan berat hingga gangguan fungsi organ.
“Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase tertentu kondisi pasien bisa memburuk cepat,” tegas dr. Gia.
Karena itu, keluarga diminta tidak lengah ketika anggota keluarga mengalami demam. Pengawasan harus semakin ketat apabila muncul tanda bahaya seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh semakin lemas, atau penurunan kesadaran.
“Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat,” ujarnya.
Berdasarkan pengalamannya bekerja di fasilitas kesehatan, dr. Gia menyebut persoalan dalam penanganan pasien DBD kerap berkaitan dengan keterlambatan mengenali tanda bahaya dan penerapan tata laksana yang tidak tepat.
Selain mengenali gejala dan tanda bahaya, masyarakat juga diminta memperkuat pencegahan. DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, sehingga pemberantasan sarang nyamuk menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan.
Salah satu upaya yang dianjurkan adalah menerapkan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Upaya tersebut juga dapat diperkuat dengan penggunaan obat antinyamuk serta gotong royong membersihkan lingkungan.
“Setiap keluarga dapat berperan dengan menjalankan 3M Plus secara konsisten, mengurangi paparan gigitan nyamuk, memperhatikan lingkungan di rumah dan tempat beraktivitas,” kata dr. Gia.
Pesannya jelas: jangan terkecoh saat demam DBD turun. Kenali tanda bahayanya, awasi kondisi pasien, dan segera cari pertolongan medis bila muncul gejala yang mengkhawatirkan. (red/ria)










