SUARASMR.NEWS SURABAYA – Ada luka yang tidak terlihat, tetapi terus hidup dalam ingatan. Ada peristiwa yang telah berlalu puluhan tahun, tetapi jejaknya masih terasa dalam cerita keluarga, percakapan, dan ingatan orang-orang yang pernah mengalaminya.
Setiap 30 September, Indonesia kembali menoleh pada salah satu babak paling kelam dan kompleks dalam perjalanan sejarahnya, peristiwa yang dikenal sebagai Gerakan 30 September atau G30S.
Bagi sebagian orang, tanggal ini adalah bagian dari pelajaran sejarah. Namun bagi keluarga dan mereka yang memiliki pengalaman langsung dengan pergolakan pada masa itu, 30 September dapat membawa ingatan, kehilangan, dan emosi yang jauh lebih personal.
Di balik catatan sejarah dan perdebatan mengenai peristiwa tersebut, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, setiap konflik dan kekerasan selalu meninggalkan dampak pada manusia, termasuk pada kesehatan mental.
Ingatan mengenai kehilangan, kekerasan, ketakutan, maupun pengalaman traumatis dapat bertahan dalam waktu panjang. Pada sebagian orang, kenangan terhadap peristiwa berat bahkan dapat memengaruhi kondisi psikologis dan hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Trauma tidak selalu berhenti pada orang yang mengalami sebuah peristiwa secara langsung. Dalam kondisi tertentu, pengalaman traumatis dapat memengaruhi generasi berikutnya melalui pola pengasuhan, komunikasi keluarga, maupun cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, momentum mengenang sejarah sebaiknya tidak hanya menjadi ruang untuk mengingat apa yang pernah terjadi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental.
Mengenang peristiwa sejarah secara sehat dapat dilakukan dengan memperoleh informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, berdiskusi secara tenang, serta menghormati keluarga dan individu yang memiliki pengalaman berbeda terhadap peristiwa tersebut.
Bagi seseorang yang merasa sangat tertekan ketika berhadapan dengan cerita atau kenangan traumatis, menjaga jarak sejenak dari informasi yang memicu emosi juga dapat menjadi pilihan.
Berbicara dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional kesehatan mental dapat dilakukan apabila tekanan tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sejarah memang tidak dapat diubah. Namun, cara generasi hari ini memahami dan menyikapinya dapat menentukan bagaimana luka masa lalu tidak terus menjadi beban bagi kesehatan mental generasi berikutnya.
Momentum 30 September dengan demikian dapat menjadi pengingat bahwa mengenang sejarah bukan hanya tentang mengingat peristiwa, tetapi juga tentang menjaga kemanusiaan, menghormati mereka yang terdampak, dan membangun kehidupan masyarakat yang lebih sehat secara fisik maupun mental. (red/akha)











