Suhu Bromo 3 Derajat Celsius, Wisatawan Pingsan Diduga Hipotermia di Lautan Pasir

oleh

SUARASMR.NEWS, PROBOLINGGO – Suhu ekstrem di kawasan Gunung Bromo kembali menjadi peringatan serius bagi para wisatawan. Temperatur yang bisa anjlok hingga 3 derajat Celsius.

Suhu 3 derajat Celsius bukan sekadar membuat tubuh menggigil, tetapi berpotensi memicu hipotermia hingga menyebabkan wisatawan kehilangan kesadaran.

banner 930x110

Peristiwa tersebut dialami Lia (30), warga Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, saat berkunjung ke kawasan Bromo pada Senin (24/8/2026) pagi.

Bersama sejumlah rekannya, Lia mendadak mengalami kondisi yang mengkhawatirkan hingga sempat pingsan di kawasan lautan pasir.

Wisatawan tersebut kemudian harus dievakuasi menuju Puskesmas Sukapura untuk mendapatkan pertolongan medis.

Kejadian bermula ketika petugas penjaga tiket menerima laporan dari salah seorang wisatawan yang berada dalam satu rombongan dengan Lia.

Saat itu, Lia ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di jalur menuju deretan warung pedagang kaki lima (PKL) di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

“Yang melapor merupakan teman satu rombongan dari yang bersangkutan,” kata Staf Petugas Penjaga Tiket, Yudha.

Mendapat laporan tersebut, petugas bergerak cepat. Petugas penjaga tiket bersama personel TNI AL dan petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) langsung menuju lokasi untuk melakukan evakuasi.

Karena kondisi Lia tidak sadarkan diri, proses evakuasi dilakukan menggunakan sepeda motor agar korban secepatnya keluar dari kawasan lautan pasir dan memperoleh penanganan medis.

“Kami pun bersama-sama turun ke lautan pasir untuk melakukan evakuasi menggunakan motor,” ujarnya.

Setibanya di lokasi, petugas memberikan pertolongan pertama sebelum membantu Lia naik ke sepeda motor. Selanjutnya, wisatawan tersebut dievakuasi keluar dari kawasan Bromo menuju Puskesmas Sukapura.

Diberi Oksigen hingga Diselimuti : Dokter Puskesmas Sukapura, dr. Febry Yasin Fahroni, membenarkan pihaknya menerima wisatawan Gunung Bromo yang mengalami hipotermia pada Senin (24/8).

Baca Juga :  Hari Santri Nasional: Pesantren Kian Mantap Cetak Generasi Tangguh dan Mandiri

Sesampainya di puskesmas, Lia langsung mendapatkan penanganan medis untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.

“Penanganan yang kami lakukan awal pakai O2 nasal. Kemudian blanket, jaket, dan sprei,” kata dr. Febry.

Beruntung, kondisi Lia berangsur membaik setelah mendapatkan penanganan. Ia tidak lagi menunjukkan tanda-tanda pucat dan lemas sehingga akhirnya diperbolehkan pulang karena kondisinya dinilai sudah stabil.

Kepala TU Puskesmas Sukapura, Mistine, menyebut kondisi Lia saat sudah mendapatkan perawatan terlihat jauh lebih baik.

“Nadinya sudah kuat, tampak semringah, dan tidak pucat lagi,” ujarnya.

Wisatawan Wajib Waspada : Peristiwa ini menjadi pengingat bagi wisatawan yang hendak menikmati keindahan Gunung Bromo agar tidak menganggap remeh suhu dingin, terutama saat dini hari hingga pagi.

Wisatawan disarankan mempersiapkan pakaian berlapis, jaket tebal, penutup kepala, sarung tangan, serta perlengkapan penghangat tubuh. Kondisi fisik juga perlu diperhatikan, terutama bagi wisatawan yang tidak terbiasa dengan suhu sangat rendah.

Keindahan Bromo memang mampu memukau siapa saja. Namun di balik panorama matahari terbit dan lautan pasir yang memesona, dinginnya Bromo juga menyimpan risiko yang tidak boleh diabaikan.

Kasus Lia menjadi bukti bahwa persiapan sebelum berwisata bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut keselamatan jiwa. (red/agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *