SUARASMR.NEWS – Peta persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin memanas. KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam secara terbuka mengungkap alasan di balik langkah besarnya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU.
Ia menegaskan, pencalonannya bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan amanah langsung dari sesepuh NU, KH Nurul Huda Djazuli.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Salam saat bersilaturahmi dengan jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh dan pengurus cabang se-Aceh di sela Musyawarah Kerja Wilayah NU Aceh di Banda Aceh.
“Latar belakang kami berikhtiar mengabdi di PBNU pada Muktamar mendatang, yang paling utama adalah atas perintah KH Nurul Huda Djazuli,” tegas Gus Salam, Minggu (28/6/2026)
Menurutnya, sosok ulama yang akrab disapa Kiai Da itu merasa prihatin melihat dinamika yang terjadi di tubuh PBNU. Kiai Da, kata Gus Salam, menginginkan NU kembali menjadi organisasi yang rukun, solid, dan menjadi teladan bagi umat.
“Beliau sangat sedih dan prihatin melihat adanya konflik terbuka di lingkungan PBNU,” ungkapnya.
Gus Salam mengisahkan, dalam sebuah pertemuan di Malang beberapa waktu lalu, Kiai Da secara langsung memintanya untuk maju memimpin PBNU pada Muktamar mendatang.
“Kamu sebagai santri. Kamu juga mengabdi di NU sekarang. Harus ikhtiar menjadi pemimpin di Muktamar yang akan datang,” ujar Gus Salam mengulang pesan gurunya.
Dari amanah tersebut, Gus Salam mengaku menerima dua tugas besar. Pertama, mewujudkan rekonsiliasi total di internal PBNU agar organisasi kembali rukun, kompak, dan bersatu. Kedua, memastikan tata kelola organisasi tetap berakar kuat pada nilai-nilai pesantren sebagai ruh utama Nahdlatul Ulama.
“Dua pesan itu terus beliau sampaikan kepada kami. Karena itu, kami akan melakukan rekonsiliasi total dengan seluruh elemen Nahdlatul Ulama,” katanya.
Meski demikian, Gus Salam mengaku sempat merasa tidak pantas menerima amanah tersebut. Ia bahkan meminta konfirmasi ulang kepada pendamping Kiai Da untuk memastikan bahwa perintah itu memang ditujukan kepadanya.
“Saya merasa belum layak. Tetapi setelah saya pastikan kembali, ternyata benar itu adalah amanah dari beliau,” ujarnya.
Sebagai santri, lanjut Gus Salam, kepatuhan kepada guru merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar. Berbekal restu tersebut, ia kini mulai melakukan safari politik dengan bersilaturahmi kepada para sesepuh, ulama, dan pengurus NU di berbagai daerah guna membangun kebersamaan menjelang Muktamar.
Sementara itu, Sekretaris PWNU Aceh, Tgk Asnawi M. Amin, menegaskan bahwa hingga kini PWNU Aceh belum menentukan arah dukungan kepada calon Ketua Umum PBNU mana pun.
Menurutnya, Gus Salam menjadi kandidat pertama yang datang memaparkan gagasan di hadapan pengurus NU se-Aceh. Namun, kesempatan serupa akan diberikan kepada seluruh kandidat lainnya.
“Kami membuka ruang yang sama bagi semua calon untuk datang berdialog dan memaparkan program kerja. Nantinya seluruh pengurus cabang akan bermusyawarah untuk menentukan sikap bersama,” kata Asnawi.
Sebagai informasi, Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026 telah menetapkan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU pada 1–5 Agustus 2026. Namun, lokasi penyelenggaraan muktamar hingga kini masih belum diputuskan.
Muktamar mendatang diperkirakan menjadi salah satu momentum paling krusial bagi Nahdlatul Ulama, dengan isu persatuan, rekonsiliasi, dan arah kepemimpinan organisasi menjadi perhatian utama warga nahdliyin di seluruh Indonesia. (red/akha)











