Film SOLATA Bikin Dunia Menoleh: Kisah Pendidikan, Persahabatan dan Nasionalisme Indonesia

oleh

SUARASMR.NEWS MAKASSAR – Dari pelosok Tana Toraja, sebuah cerita sederhana tentang guru dan anak-anak desa justru mampu menembus panggung perfilman internasional.

Film SOLATA tidak sekadar menghadirkan kisah persahabatan, tetapi membawa suara tentang pendidikan, kemanusiaan, budaya, dan nasionalisme Indonesia hingga ke Eropa Timur.

banner 930x110

SOLATA, yang dalam bahasa Toraja bermakna “teman sebagai keluarga yang kita pilih”, kembali ke Tanah Air setelah menuntaskan rangkaian perjalanan internasional di Eropa Timur.

Kepulangan film tersebut bukan sekadar membawa pulang pengalaman, tetapi juga sebuah pencapaian yang membanggakan. SOLATA sebelumnya berhasil meraih Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism dalam Golden FEMI Film Festival di Sofia, Bulgaria, pada 6 Juni 2026.

“Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa kisah yang lahir dari pelosok Indonesia ternyata mampu berbicara di hadapan dunia,” kata sutradara sekaligus produser SOLATA, Ichwan Persada dikutip suarasmr.news, Sabtu (8/8/2026).

Ichwan juga mengatakan bahwa perjalanan internasional film tersebut menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan cerita Indonesia kepada publik global.

“Film SOLATA kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan rangkaian perjalanan internasional di Eropa Timur. Film ini membawa apresiasi dan pengalaman baru dalam memperkenalkan cerita Indonesia kepada publik dunia,” kata Ichwan di Makassar.

Kisah Guru dari Jakarta yang Menembus Batas Kota: SOLATA mengangkat realitas pendidikan di wilayah pelosok melalui kisah seorang relawan guru asal Jakarta yang memilih mengajar di Ollon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, sang guru harus berhadapan dengan keterbatasan pendidikan dan kehidupan anak-anak di daerah yang berada jauh dari pusat perkotaan.

Di tempat itulah sebuah perjalanan emosional dimulai. Hubungan antara guru yang diperankan Rendy Kjaernett dengan para muridnya perlahan berkembang menjadi kisah tentang persahabatan, perjuangan, dan arti penting pendidikan dalam menentukan masa depan.

Baca Juga :  Layar Lebar, Mertua Ngeri Kali Hadirkan Aksi Blak-blakan Sang Pemengaruh yang Siap Bikin Penonton Meledak Tawa

Namun, ada sebuah detail unik yang membuat pesan nasionalisme film ini semakin kuat. Sang guru bertemu dengan enam murid yang memiliki nama depan menyerupai nama-nama presiden Indonesia. Keenam karakter tersebut menjadi simbol yang menyelipkan pesan kebangsaan di tengah cerita kehidupan anak-anak pelosok.

SOLATA tidak hanya berbicara tentang ruang kelas dan pendidikan. Keindahan alam Toraja, kehidupan masyarakat, lingkungan sosial, hingga kekayaan budaya lokal turut menjadi bagian penting dari cerita.

Semua itu menjadikan film SOLATA bukan sekadar tontonan, melainkan jendela untuk melihat wajah Indonesia dari sudut yang jarang tersorot.

Setelah memperoleh penghargaan di Bulgaria, tim SOLATA melanjutkan perjalanan ke sejumlah kota di Eropa Timur, termasuk Bratislava di Slovakia, Budapest di Hungaria, serta Ankara dan Istanbul di Turki.

Film tersebut juga menjadi ruang pertemuan antara sineas Indonesia dengan komunitas perfilman, mahasiswa, diaspora Indonesia, hingga masyarakat setempat.

Perjalanan itu sekaligus membuka dialog mengenai persoalan pendidikan, kemanusiaan, persahabatan, kebudayaan, dan nasionalisme.

Kisah SOLATA memberikan pesan kuat bahwa sebuah cerita tidak harus lahir dari kota besar untuk bisa didengar dunia. Dari sebuah wilayah di pelosok Toraja, lahir cerita yang mampu menyeberangi batas geografis dan budaya.

Kini, setelah menyelesaikan perjalanan internasionalnya, SOLATA kembali mendekat kepada penonton Indonesia dengan membawa pengalaman dan apresiasi dari dunia perfilman Eropa Timur.

Ichwan menegaskan, film tersebut akan terus membawa pesan tentang pendidikan, persahabatan, kebudayaan, kemanusiaan, dan nasionalisme sekaligus memperkenalkan Indonesia melalui kekuatan sinema.

SOLATA membuktikan satu hal: ketika cerita tentang Indonesia lahir dari hati dan dikemas dengan ketulusan, dunia pun bisa berhenti sejenak untuk mendengarkannya. Dari pelosok Toraja, suara Indonesia akhirnya menggema hingga Eropa. (red/niluh)

Baca Juga :  Guncang Dunia Perfilman! “Pangku” Raih 4 Penghargaan di Busan, Masuk 7 Nominasi FFI 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *