SUARASMR.NEWS JAKARTA – Radioterapi masih dibayangi ketakutan soal efek samping. Namun, dokter spesialis onkologi radiasi menegaskan, anggapan bahwa terapi radiasi otomatis merusak seluruh tubuh adalah pemahaman yang keliru.
Dokter Spesialis Onkologi Radiasi MRCCC Siloam Semanggi, dr. Mirna Primasari, Sp.Onk.Rad, mengatakan radioterapi diberikan dengan dosis yang terukur dan sasaran yang terarah, sesuai kondisi serta kebutuhan pasien.
“Radiasi memang kesannya seperti racun, menghancurkan sel, membunuh sel-sel tubuh kita. Tapi bila diberikan dalam jumlah yang tepat, terukur dan terarah, maka yang membunuh sel ini adalah untuk membunuh sel yang tidak baik dalam tubuh kita,” ujar Mirna di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Mirna menilai ketakutan pasien kerap diperparah oleh informasi dari Google, media sosial hingga AI yang menyajikan daftar efek samping secara umum tanpa menjelaskan konteks.
Padahal, radioterapi bersifat lokal. Efek samping sangat bergantung pada bagian tubuh yang menjadi sasaran radiasi.
“Kalau di Google atau di AI itu dikatakan efek sampingnya berat, maka itu kurang tepat. Bukan salah, tapi kurang tepat karena radiasi itu sifatnya lokal,” tegasnya.
Ia mencontohkan, pasien yang menjalani radiasi di kaki tidak perlu otomatis khawatir rambutnya akan rontok. Sebab, efek terapi berkaitan dengan lokasi tubuh yang mendapatkan paparan.
Mirna mengibaratkan radioterapi seperti obat. Dosis yang tepat dapat memberikan manfaat, sedangkan penggunaan secara berlebihan justru bisa membahayakan.
Karena itu, ia meminta pasien tidak menelan mentah-mentah informasi kesehatan dari internet. Dokter dan tim medis akan menjelaskan manfaat, efek samping hingga kemungkinan komplikasi sebelum terapi dilakukan.
“Jangan takut dulu,” pesan Mirna. Pasien diminta lebih bijak memilah informasi dan memahami terapi berdasarkan kondisi medis masing-masing, bukan sekadar berdasarkan apa yang muncul di mesin pencari. (red/niluh)










