Heboh! Anggota DPR RI Atalia Praratya Semprot Bupati Purwakarta, Lagu Kontroversial Dinilai Lecehkan Martabat Perempuan

oleh

SUARASMR.NEWS JAKARTA – Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menjadi sorotan setelah lagu berbahasa Sunda ciptaannya berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” menuai kontroversi.

Anggota DPR RI Komisi VIII, Atalia Praratya, melontarkan kritik keras dan menilai lirik lagu tersebut mengandung narasi patriarki yang berpotensi merendahkan perempuan.

banner 720x1000

Melalui akun Instagram pribadinya, Atalia mempertanyakan mengapa karya dengan pesan yang dinilai sensitif terhadap isu perempuan justru lahir dari seorang kepala daerah.

“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?” tulis Atalia.

Politisi dari Partai Golkar tersebut menegaskan, ia tidak melihat lagu itu sekadar sebagai karya seni, melainkan sebagai cerminan cara pandang yang patut dikritisi.

Menurutnya, dari sekian banyak pilihan kata indah dalam Bahasa Sunda dan begitu banyak nilai kehidupan yang bisa diangkat, lirik tersebut justru memunculkan tafsir yang dianggap merendahkan perempuan.

Atalia juga mengingatkan bahwa Budaya Sunda dibangun di atas falsafah silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi, sehingga tidak semestinya menghadirkan narasi yang dinilai bertentangan dengan semangat penghormatan terhadap perempuan.

banner 720x1000

Kritik itu pun memicu perdebatan luas di ruang publik mengenai batas kebebasan berkarya seorang pejabat publik dan tanggung jawab moral yang melekat pada jabatannya.

Menanggapi polemik tersebut, Saepul Bahri Binzein memberikan klarifikasi. Ia menegaskan lagu itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyudutkan ataupun merendahkan kaum perempuan.

Menurutnya, puisi dan lagu tersebut ditulis sejak tahun 2020 sebagai refleksi atas perjalanan hidup dan pengakuan terhadap kenakalan dirinya di masa lalu.

“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” ujarnya.

Baca Juga :  Viral Cuplikan Pidato Sri Mulyani: Benarkah Sebut Guru “Beban Negara”?

Binzein menegaskan karya tersebut merupakan media kontemplasi pribadi, bukan serangan kepada kelompok tertentu. Meski demikian, ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung atau tidak nyaman akibat lirik lagu tersebut.

“Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” katanya.

Polemik ini kini menjadi perhatian publik dan kembali memunculkan perdebatan mengenai sensitivitas karya seni yang dibuat oleh pejabat publik, terutama ketika menyentuh isu kesetaraan gender dan penghormatan terhadap perempuan.

Berikut ini lirik lagu bahasa Sunda ciptaan Bupati Purwakarta yang dinilai Atalia merendahkan kaum perempuan:

Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki Cacak mun jadi awewe Es-Em-Pe Kelas Tilu Tos karuron tujuh kali

Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki Teu kudu meuli kutang Itu busana leuwih gede batan susu

Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kurng jadi lalaki Teu kudu ngaprak-ngaprak apotekAlatan telat bulan

Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata Sakalina ngiceup hese beunta.

(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki Andai saja jadi perempuan SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali

Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki Tidak usah membeli bra, yang busanya lebih besar daripada payudara

Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki Tidak usah keluyuran mencari apotek, karena telat datang bulan

Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki Tidak usah melukis alis dan bulu mata yang sekali berkedip susah melek Lelaki langit, Lelaki bejat). (red/ria)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *