SIDOARJO. SUARASMR.NEWS – Kekhawatiran kembali menyelimuti kawasan terdampak Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Volume lumpur dan air yang terus meningkat kini dilaporkan hampir menyentuh bibir tanggul penahan.
Keadaan tersebut memicu kecemasan dan trauma mendalam bagi warga yang masih mengingat pahitnya peristiwa amblesnya tanggul pada tahun 2018.
Kondisi terkini di area tanggul membuat masyarakat waswas. Warga melaporkan permukaan lumpur telah melampaui batas tanggul lama setelah aktivitas pembuangan lumpur ke Sungai Porong sempat terhenti dalam beberapa waktu.
Situasi ini memaksa petugas melakukan peninggian tanggul secara intensif, terutama di titik 71 yang berada di perbatasan Kelurahan Siring dan Kelurahan Ketapang Keres.
Tak hanya itu, tanda-tanda yang dianggap mengkhawatirkan juga muncul di titik lain. Dalam sepekan terakhir, rembesan air sepanjang kurang lebih 100 meter terdeteksi di bawah tanggul titik 68, tepatnya di perbatasan Desa Glagaharum dan Desa Gempolsari.
Sementara itu, jarak permukaan air di kolam penampungan dengan puncak tanggul kini dikabarkan hanya tersisa sekitar satu meter.
“Kalau melihat kondisi sekarang, warga tentu khawatir. Air sudah hampir menyentuh bibir tanggul. Kami trauma dengan kejadian tahun 2018 saat tanggul ambles sepanjang kurang lebih 100 meter,” ujar Ketua RT 11 RW 2 Desa Gempolsari, Sudarmawan.
Ancaman yang menghantui warga bukanlah ketakutan tanpa alasan. Jika tanggul kembali mengalami kerusakan atau jebol, diperkirakan antara 1.000 hingga 1.500 jiwa dari enam RT berada dalam risiko langsung terdampak luapan lumpur.
Kondisi ini semakin diperparah oleh persoalan air bersih yang hingga kini masih menjadi keluhan warga. Air di sekitar kawasan terdampak disebut berbau tidak sedap dan memiliki kadar garam tinggi yang berpotensi merusak bangunan rumah dalam jangka panjang.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait tidak lengah menghadapi situasi ini. Mereka meminta pengawasan tanggul dilakukan secara maksimal dan berkelanjutan agar tragedi yang pernah terjadi tidak kembali terulang.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) memastikan berbagai langkah mitigasi terus dilakukan. Pengaliran lumpur menuju Sungai Porong disebut masih berlangsung dengan bantuan kapal keruk dan pompa berkapasitas besar.
Selain itu, alat berat juga terus dioperasikan untuk membuat jalur aliran lumpur dari pusat semburan menuju kolam pompa guna mengurangi tekanan di area tanggul.
Terkait penggunaan bambu dan gedek pada proyek peninggian tanggul yang sempat menjadi sorotan warga, pihak PPLS menjelaskan bahwa material tersebut digunakan karena karakteristik lumpur yang sulit mengikat sehingga membutuhkan penahan tambahan agar struktur dan alur aliran tetap stabil.
Meski upaya penanganan terus dilakukan, pemandangan permukaan lumpur yang semakin tinggi membuat trauma lama kembali muncul di benak warga.
Bagi mereka, peristiwa amblesnya tanggul pada 2018 bukan sekadar catatan sejarah, melainkan luka yang masih membekas hingga hari ini.
Kini, masyarakat hanya berharap satu hal: jangan sampai bencana yang pernah merenggut rasa aman mereka kembali terulang di tengah kehidupan yang belum sepenuhnya pulih dari dampak Lumpur Lapindo. (red/akha)











