SUARASMR.NEWS – Gelombang protes mahasiswa kembali mengguncang Kota Bandung. Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi turun ke jalan menyuarakan keresahan atas kondisi ekonomi yang dinilai semakin tidak stabil.
Dalam aksi bertajuk “Indonesia di Ambang Krisis, Rakyat Bangkit Rebut Kedaulatan”, para mahasiswa melontarkan kritik keras terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap belum mampu menjawab tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Aksi yang digelar di depan Kantor DPRD Jawa Barat itu diikuti mahasiswa dari sejumlah kampus ternama, seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Komputer Indonesia, hingga Universitas Pendidikan Indonesia. Mereka juga mendapat dukungan dari organisasi Front Mahasiswa Nasional.
Di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok, melemahnya daya beli masyarakat, dan ketidakpastian ekonomi global, para demonstran menilai pemerintah harus segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan kondisi ekonomi nasional.
Salah satu tuntutan yang paling menyita perhatian adalah desakan agar pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para mahasiswa menilai program tersebut berpotensi membebani keuangan negara dan membuka peluang terjadinya penyimpangan anggaran apabila tidak diawasi secara ketat.
Koordinator Front Mahasiswa Nasional Bandung Raya, Ainul Mardhyah, menegaskan pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap kondisi ekonomi yang semakin dirasakan berat oleh masyarakat bawah.
“Yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah kebijakan yang mampu menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat nilai tukar rupiah, menahan laju kenaikan harga kebutuhan pokok, dan memastikan harga BBM tetap terkendali,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah harus segera menunjukkan keberpihakan nyata kepada rakyat yang saat ini menghadapi tekanan ekonomi dari berbagai sisi.
Aksi tersebut juga menyoroti kenaikan harga Pertamax yang belakangan menjadi perbincangan publik. Mahasiswa menilai kenaikan harga energi berpotensi memicu efek domino terhadap harga kebutuhan lainnya yang pada akhirnya semakin membebani masyarakat.
Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) menegaskan bahwa setiap penyesuaian harga BBM dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi geopolitik global, harga minyak dunia, dan daya beli masyarakat. Pertamina juga memastikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan.
Meski demikian, suara dari jalanan Bandung menjadi sinyal bahwa keresahan publik terhadap kondisi ekonomi semakin nyata. Ketika mahasiswa mulai turun ke jalan membawa isu ekonomi rakyat, pemerintah dituntut tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga menghadirkan solusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pertanyaannya kini, apakah pemerintah akan mendengar suara rakyat yang semakin lantang, atau justru membiarkan keresahan itu terus membesar di tengah ketidakpastian ekonomi yang menghantui negeri? (red/hil)











