Mengharukan, Tabungan Receh Penjual Bubur Antarkan Nenek 105 Tahun ke Tanah Suci 

oleh

SUARASMR.NEWS – Senyum teduh tak pernah lepas dari wajah renta Marsiyah Salim. Di usia 105 tahun, nenek asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur itu menjadi calon haji tertua Indonesia pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, membawa kisah penuh haru tentang kekuatan doa dan keteguhan iman.

Tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) SUB 112 melalui Embarkasi Surabaya, Mbah Marsiyah akhirnya bisa terwujud menapakkan bisa kaki di Tanah Suci Makkah.

banner 720x1000

Perjalanannya bukan sekadar ibadah biasa, melainkan bukti bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mengetuk pintu langit dengan kesabaran dan keikhlasan.

Dengan tubuh yang telah melewati lebih dari satu abad kehidupan, Mbah Marsiyah justru tampak tenang menikmati perjalanan panjang pertamanya menaiki pesawat. Tak ada keluhan, hanya syukur yang mengalir dari bibirnya.

“Rasanya ayem, semoga berangkat sampai pulang sehat. Naik pesawat ternyata enak, anginnya dingin,” tuturnya polos, membuat siapa saja yang mendengar ikut terenyuh.

Di balik keberangkatannya menuju Baitullah, tersimpan perjuangan sederhana yang begitu mulia. Bertahun-tahun lamanya, Mbah Marsiyah mengumpulkan uang receh hasil berjualan bubur di teras rumahnya yang teduh di bawah pohon sawo.

Lembaran uang Rp2.000 hingga Rp5.000 ia simpan perlahan ke dalam sebuah kaleng bekas di sudut lemari kayu. Sedikit demi sedikit, uang itu tumbuh menjadi jalan menuju panggilan suci Allah.

banner 720x1000

“Saya jualan bubur, menabung sedikit-sedikit dimasukkan kaleng. Kalau kurang, anak saya membantu,” ujarnya lirih.

Dari kesederhanaan itulah lahir ketulusan yang akhirnya mengantarkan dirinya mendaftar haji pada tahun 2021. Karena faktor usia, Mbah Marsiyah mendapat program percepatan keberangkatan lansia dari pemerintah.

Meski usianya telah melampaui satu abad, Mbah Marsiyah masih tampak bugar. Ia rutin berjalan kecil di dalam rumah dan hidup dalam suasana desa yang damai bersama keluarga tercinta.

Baca Juga :  Ribuan Pelajar Pecahkan Rekor MURI, Makan Telur dan Daging Ayam di Car Free Day Solo

Kisah Mbah Marsiyah menjadi pengingat yang menyejukkan hati, bahwa perjalanan menuju rumah Allah bukan tentang seberapa cepat langkah seseorang, melainkan seberapa tulus niat yang disimpan dalam doa-doa panjangnya.

Dari bawah rindangnya pohon sawo dan sebuah kaleng tua penuh tabungan receh, doa seorang nenek akhirnya melangit hingga membawanya bersujud di depan Ka’bah. Sebuah bukti bahwa bagi Allah, tak ada usia yang terlalu senja untuk memenuhi panggilan suci-Nya. (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *