SUARASMR.NEWS – Menjelang gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, langkah silaturahmi terus dilakukan Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, KH Abdussalam Shohib.
Kiai yang akrab disapa Gus Salam itu melakukan safari ke sejumlah pondok pesantren dan kediaman para ulama sebagai bagian dari ikhtiar batin sekaligus memohon doa restu atas niatnya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Dalam salah satu lawatannya, Gus Salam bersilaturahmi ke kediaman KH Imam Jazuli di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat. Kehadirannya disambut hangat dalam suasana penuh kekeluargaan dan nuansa khas pesantren yang khidmat.
Safari tersebut turut didampingi sejumlah kiai muda dan pengasuh pesantren dari berbagai daerah, di antaranya KH Hasan Syukri Zamzami Mahrus, KH Muhammad Ma’mun Mahfudz, KH Lukman Hakim Hamid, serta KH Abdul Mu’id.
Bagi Gus Salam, safari tersebut bukan sekadar agenda politik organisasi, melainkan ruang sowan untuk menyerap pandangan, nasihat, serta harapan para masyaikh demi masa depan Nahdlatul Ulama yang tetap teduh, bersatu, dan berpijak pada tradisi keilmuan pesantren.
“Beliau ini tokoh muda NU yang memiliki pandangan jauh ke depan. Idealisme dan misi beliau dalam membangun transformasi pesantren dan pemberdayaan umat menjadi inspirasi bagi banyak kalangan,” ujar Gus Salam saat memuji sosok Kiai Imam Jazuli dikutip suarasmr.news, Kamis (28/5/2025).
Menurut Gus Salam, KH Imam Jazuli merupakan figur ulama muda visioner yang tetap sederhana dan membumi di tengah kiprah serta gagasan besarnya untuk kemajuan umat.
“Kesederhanaan beliau mencerminkan watak asli pesantren. Namun di balik kesahajaan itu, beliau memiliki gagasan dan pemikiran yang sangat cemerlang,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Gus Salam juga memberikan apresiasi atas gagasan besar Kiai Imam Jazuli yang menginisiasi Workshop Transformasi Pesantren bagi 5.000 pengasuh pondok pesantren se-Indonesia sepanjang tahun 2026.
Menurutnya, program tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas pesantren agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan ruh tradisi dan nilai-nilai keilmuan yang diwariskan para ulama.
“Ini ikhtiar besar yang patut diapresiasi. Pesantren harus mampu bertransformasi, tetapi tetap menjaga ruh keilmuan, akhlak, dan tradisi yang menjadi kekuatannya selama ini,” tutur Gus Salam.
Pertemuan yang berlangsung sederhana namun sarat makna itu juga diwarnai harapan besar agar Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 mampu melahirkan kepemimpinan yang menjaga marwah jam’iyah, merawat persatuan umat, sekaligus memperkuat peran pesantren di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Di tengah dinamika menuju muktamar, para kiai memilih merawat komunikasi dengan penuh adab, kesejukan, dan musyawarah. Tradisi silaturahmi khas pesantren itu dinilai menjadi ruh penting dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama hingga hari ini. (red/agus)











