SUARASMR.NEWS – Jauh sebelum manusia mengenal dunia dengan segala hiruk-pikuk kehidupan, ruh terlebih dahulu berada dalam keheningan suci di hadapan Allah SWT.
Sebelum ada tangis, cinta, kehilangan, bahkan sebelum bumi dipenuhi manusia, ruh telah lebih dulu merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta dalam ketenangan yang tak mampu dijelaskan kata-kata.
Dalam perjalanan spiritual yang sering terlupakan itu, Allah SWT menciptakan manusia bukan sekadar dari tanah, melainkan dari kasih sayang dan kehendak-Nya yang agung.
Ruh kemudian dipersiapkan untuk menjalani sebuah perjalanan panjang bernama kehidupan, tempat manusia diuji dengan bahagia, luka, harapan, dan air mata.
Di balik rahasia penciptaan tersebut, seolah tersimpan dialog yang begitu menyentuh antara ruh dan Allah SWT: “Wahai ruh, bersediakah engkau turun ke bumi?”
Ruh pun gemetar. Dunia yang akan dihuni manusia bukanlah tempat tanpa kesedihan. Di sana ada cinta. perpisahan, godaan, kehilangan, dan rasa kecewa yang kelak menguji hati manusia.
Namun di balik semua itu, Allah menghadirkan kesempatan agar manusia belajar tentang sabar, syukur, ikhlas, dan cinta sejati kepada-Nya.
Allah lalu membekali manusia dengan hati agar mampu merasakan kasih sayang, akal untuk memahami petunjuk, serta iman sebagai cahaya agar tidak tersesat dalam gelapnya dunia.
Dalam kegelisahannya, ruh kembali bertanya: “Ya Allah, bagaimana aku dapat menemukan-Mu di dunia yang begitu ramai dan penuh tipu daya?”
Dengan penuh kasih sayang, Allah menjawab: “Aku lebih dekat kepadamu daripada urat nadimu.”
Kalimat itu menjadi pengingat abadi bahwa Allah tidak pernah benar-benar jauh dari hamba-Nya. Saat manusia merasa sendiri, Allah selalu menemani. Ketika hati hancur dan doa terasa berat untuk diucapkan, Allah tetap mendengar suara hati yang paling dalam.
Sejak saat itulah manusia lahir membawa fitrah untuk selalu mencari Tuhannya. Sebab pada hakikatnya, setiap ruh selalu merindukan jalan pulang menuju Allah SWT.
Tak heran jika banyak manusia tetap merasa kosong meski hidup bergelimang harta, jabatan, dan kemewahan. Sebab ketenangan sejati tidak lahir dari dunia, melainkan dari hati yang dekat dengan Sang Pencipta.
Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara menuju kehidupan yang abadi. Di dunia, manusia belajar tentang kehilangan agar mengenal ikhlas, belajar tentang luka agar kembali bersujud, dan belajar tentang air mata agar memahami bahwa hanya Allah tempat terbaik untuk bersandar. (red/akha)











