SUARASMR.NEWS Jakarta – Pengamat sosial-politik sekaligus penulis opini, Saiful Huda Ems (SHE), melontarkan kritik keras terhadap Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dalam keterangannya kepada media, Sabtu (18/7/2026).
SHE menilai PSI masih menghadapi tantangan besar untuk berkembang menjadi kekuatan politik nasional menjelang Pemilu 2029.
“Kalau saya melihat perjalanan politik PSI sejauh ini, partai tersebut belum menunjukkan kapasitas sebagai partai besar. Popularitas boleh tinggi, tetapi kekuatan politik sesungguhnya ditentukan oleh kaderisasi, pengalaman, dan kepercayaan rakyat,” ujar SHE.
Ia mengibaratkan PSI seperti petinju yang belum pernah benar-benar membuktikan kemampuannya di panggung politik nasional.
“Publik melihat baliho dan kampanyenya di mana-mana, tetapi itu belum tentu sebanding dengan kekuatan organisasi maupun basis kader yang dimiliki,” katanya.
Menurut SHE, tantangan PSI juga terletak pada kepemimpinan yang dinilainya masih minim pengalaman dalam mengelola organisasi politik berskala nasional.
“Memimpin partai politik bukan hanya soal tampil di media sosial atau menjadi sorotan publik. Dibutuhkan pengalaman panjang dalam membangun organisasi dan menjaga loyalitas kader,” ujarnya.
Dalam wawancara tersebut, SHE juga menyinggung kedekatan PSI dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Menurutnya, ketergantungan terhadap figur tertentu justru berpotensi menjadi beban politik apabila partai tidak mampu membangun identitasnya sendiri.
“Partai tidak bisa terus bergantung pada satu tokoh. Cepat atau lambat, rakyat akan menilai apakah partai itu memiliki gagasan dan kekuatan sendiri atau hanya mengandalkan efek figur,” katanya.
Saat ditanya mengenai peluang PSI pada Pemilu 2029, SHE mengaku pesimistis.
“Kalau pola politiknya masih seperti sekarang, saya memprediksi PSI akan tetap menjadi partai kecil. Membangun partai besar membutuhkan proses panjang, bukan sekadar strategi komunikasi atau perang narasi di media,” ucapnya.
Ia juga menilai langkah PSI yang kerap melontarkan kritik kepada PDI Perjuangan merupakan strategi untuk meningkatkan perhatian publik.
“Boleh saja mengkritik partai besar sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana meyakinkan rakyat dengan program dan kerja nyata, bukan hanya membangun kontroversi,” tuturnya.
Meski demikian, SHE menegaskan bahwa seluruh penilaiannya merupakan pandangan pribadi sebagai pengamat politik.
“Pada akhirnya rakyatlah yang akan menentukan. Apakah PSI mampu membuktikan diri menjadi kekuatan politik baru atau tetap menjadi partai kecil, semua akan dijawab dalam Pemilu 2029,” pungkasnya. (red/akha)











