SUARASMR.NEWS TANGERANG — Pesan penuh semangat menggema di tengah para siswa dan calon siswa Sekolah Rakyat di Kawasan Sekolah Penerbangan Curug, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (8/8/2026).
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya datang bukan sekadar meninjau kesiapan gedung rintisan program tersebut, tetapi juga membawa satu pesan kuat: jangan pernah takut bermimpi besar.
Di hadapan para siswa, Teddy membakar semangat generasi muda yang tengah menatap masa depan. Ia meminta mereka berani memiliki cita-cita setinggi mungkin, meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
“Adik-adik di sini silakan bermimpi besar, silakan bercita-cita besar. Mudah-mudahan semua cita-citanya terkabul,” kata Teddy.
Menurut Teddy, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat untuk mengejar nilai akademik. Lebih jauh dari itu, sekolah tersebut harus menjadi ruang untuk membentuk manusia yang memiliki karakter, etika, sopan santun, dan adab.
Ia mengingatkan para siswa agar senantiasa menghormati guru dan orang tua, menyayangi teman, serta membiasakan diri mengucapkan “tolong” ketika membutuhkan bantuan dan “terima kasih” setelah mendapat bantuan.
Bagi Teddy, kecerdasan tanpa karakter bukanlah bekal yang cukup untuk menghadapi kehidupan.
“Insya Allah adik-adik di sini di Sekolah Rakyat tidak hanya diajari ilmu pengetahuan, tidak hanya dibekali ilmu pelajaran, tetapi adik-adik di sini diajari bagaimana hidup yang baik, beretika yang baik, sopan santun kepada orang tua, kepada guru, kepada teman, kepada sesama,” ujarnya.
Teddy juga mengajak siswa dan calon siswa menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sila pertama dan kedua.
Ia meminta mereka membiasakan diri berdoa sebelum melakukan sesuatu dan bersyukur setelah menyelesaikannya. Sementara nilai kemanusiaan yang adil dan beradab harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan menghargai sesama.
Dalam kunjungannya bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Teddy juga berdialog langsung dengan sejumlah siswa. Dari percakapan tersebut, muncul kisah-kisah perjuangan yang menggambarkan betapa pentingnya keberadaan Sekolah Rakyat bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Salah satunya adalah Tika Pertiwi, siswi asal Jakarta Selatan. Tika mengaku sempat menghadapi persoalan biaya untuk melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan SMP. Ayahnya bekerja sebagai buruh atau kuli bangunan. Sementara sang ibu meninggal dunia sekitar empat bulan lalu.
Namun keterbatasan itu tidak memadamkan impiannya. Ketika Teddy bertanya tentang cita-citanya, Tika dengan tegas menjawab ingin menjadi psikolog.
Teddy kemudian menggali pengalaman Tika selama mengikuti Sekolah Rakyat, mulai dari kebutuhan sekolah, makanan hingga kehidupan di asrama.
Tika mengaku seluruh kebutuhan sekolah dan keperluan pribadi telah disiapkan. Ia juga menyebut mendapatkan makan tiga kali sehari dan merasa nyaman dengan lingkungan sekolah.
“Teman-temannya semua asik-asik, guru-gurunya baik-baik, wali asrama semuanya itu sayang sama kita,” kata Tika.
Kisah lain datang dari Rizki Saputra Gonzales, siswa asal Jakarta Utara yang sebelumnya sempat putus sekolah. Rizki ingin kembali menata masa depannya.
Ia mengaku memiliki satu keinginan besar: membahagiakan kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Cita-citanya pun tidak kecil. Rizki ingin menjadi anggota TNI.
Mendengar kisah tersebut, Teddy menegaskan bahwa Sekolah Rakyat memang dirancang untuk membuka kembali pintu pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya tidak pernah bersekolah maupun mereka yang terpaksa putus sekolah.
Tidak hanya pendidikan, perhatian terhadap kondisi siswa juga menjadi bagian penting. Saat mengetahui Rizki mengalami gangguan penglihatan, Teddy langsung meminta agar kondisi tersebut diperiksa secara medis.
“Oke, nanti langsung dibawa ke rumah sakit, kita cek kalau matanya ada kekurangan diobati. Kalau harus pakai kacamata diberi kacamata. Oke, jangan khawatir ya semua baik-baik saja,” ujar Teddy.
Teddy mengatakan Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya pemerintah membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi anak-anak Indonesia. Pada 2025, sebanyak 165 Sekolah Rakyat telah terbentuk, kemudian pada 2026 pemerintah menambah 100 sekolah baru.
Program tersebut, kata Teddy, merupakan bagian dari keinginan Presiden Prabowo Subianto agar tidak ada anak Indonesia yang kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan hanya karena keterbatasan keadaan.
Sekolah Rakyat diharapkan menjadi jembatan bagi mereka yang selama ini berada di pinggir kesempatan pendidikan. Bukan sekadar mengembalikan mereka ke ruang kelas, tetapi juga menyalakan kembali sesuatu yang mungkin pernah padam: harapan dan mimpi.
“Yang dulunya tidak pernah bercita-cita, belum punya mimpi, hingga dia nanti akhirnya bisa bermimpi dan bercita-cita besar,” kata Teddy.
Pesan itu menjadi inti dari kehadiran Sekolah Rakyat: setiap anak berhak memiliki masa depan, setiap anak berhak bermimpi, dan tidak boleh ada keterbatasan ekonomi yang mematikan cita-cita. (red/hil)










