Jokowi Bidik PSI Jadi Partai Besar, Saiful Huda Ems: Ambisi Politik dan Realitas Elektoral Dipertanyakan

oleh

SUARASMR.NEWS JAKARTA – Pernyataan Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berpotensi menjadi partai besar menuai kritik. Mantan Presiden RI itu bahkan menyampaikan bahwa target PSI tidak sekadar menembus Senayan, tetapi memiliki ambisi politik yang jauh lebih besar.

Pernyataan tersebut disampaikan Jokowi saat berbicara dalam sebuah kegiatan di Bandung. Ia menilai PSI, meski tergolong partai baru, telah menjadi perhatian banyak pihak.

banner 930x110

Namun, pandangan berbeda disampaikan pemerhati politik Saiful Huda Ems. Dalam opini yang ditulisnya yang diterima suarasmr.news Senin (2/11/2026), ia mempertanyakan dasar optimisme Jokowi tersebut.

Menurut Saiful, ambisi menjadikan PSI sebagai partai besar masih berhadapan dengan sejumlah persoalan mendasar, terutama pengalaman kepemimpinan, kualitas kader, dan rekam jejak elektoral.

Saiful menilai PSI masih menghadapi tantangan serius dalam membangun struktur dan kapasitas politik. Ia mempertanyakan pengalaman sebagian besar kader PSI dalam mengelola organisasi politik berskala nasional.

Kritik juga diarahkan kepada Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, yang merupakan putra bungsu Jokowi. Saiful menilai pengalaman politik Kaesang masih perlu diuji, terutama dalam hal kepemimpinan partai dan penguatan kaderisasi.

Menurutnya, masuknya sejumlah politisi dari partai lain ke PSI belum otomatis menjadi jaminan peningkatan kualitas organisasi. Perpindahan figur politik, kata Saiful, harus dibuktikan melalui kontribusi, kapasitas, dan rekam jejak yang jelas.

Persoalan berikutnya adalah strategi komunikasi politik PSI. Saiful menyoroti masifnya pemasangan atribut partai, mulai dari baliho, poster, stiker, kaus hingga bendera di berbagai daerah.

Namun, menurut dia, besarnya eksposur publik tersebut belum berbanding lurus dengan capaian elektoral. Pada Pemilu 2024, PSI belum berhasil memperoleh kursi DPR RI karena tidak memenuhi ambang batas parlemen.

Baca Juga :  Ganti Presiden dan Wakil Presiden Baru Indonesia Akan Berubah

Saiful menilai kondisi itu menjadi catatan penting bahwa popularitas visual dan intensitas kampanye tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan dukungan pemilih.

Ia juga mempertanyakan keseimbangan antara sumber daya finansial dan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki partai tersebut. Tak hanya PSI, Saiful juga mengkritisi posisi dan peran Jokowi dalam perjalanan politik nasional.

Ia menolak anggapan yang menempatkan Jokowi sebagai maestro politik Indonesia. Menurut Saiful, keberhasilan politik Jokowi selama ini tidak bisa dilepaskan dari dukungan partai, jaringan politik, serta kontribusi para pemikir dan kalangan akademisi.

banner 930x110

Saiful bahkan menyinggung perjalanan Jokowi bersama PDI Perjuangan hingga akhirnya hubungan politik keduanya berakhir.

Dalam pandangannya, pengalaman Jokowi memimpin pemerintahan tidak serta-merta membuktikan kemampuannya membangun dan mengelola partai politik secara mandiri.

Sebagai pembanding, Saiful mengangkat hasil Pemilu Legislatif 2024. PDI Perjuangan tetap menjadi partai dengan perolehan suara dan kursi DPR RI terbanyak, meskipun hubungan politik dengan Jokowi telah mengalami keretakan.

Ia juga mempertanyakan seberapa besar kontribusi politik Gibran Rakabuming Raka dalam kemenangan pasangan Prabowo Subianto-Gibran pada Pilpres 2024.

Menurut Saiful, mayoritas dukungan terhadap pasangan tersebut berasal dari basis pemilih Prabowo yang telah terbentuk pada pemilihan sebelumnya. Pandangan ini menjadi bagian dari argumentasi politik yang ia ajukan.

Pada akhirnya, Saiful menilai pernyataan Jokowi tentang masa depan PSI sebagai partai besar perlu diuji melalui kerja organisasi, kualitas kader, dan hasil pemilu, bukan sekadar optimisme politik.

Pernyataan Jokowi mengenai masa depan PSI kini menjadi bahan perdebatan tentang arah konsolidasi politik keluarga dan kekuatan partai tersebut.

Bagi Saiful, membangun partai besar bukan sekadar persoalan modal, popularitas tokoh, atau banyaknya atribut kampanye. Dibutuhkan kader yang kuat, kepemimpinan berpengalaman, ideologi yang konsisten, serta dukungan nyata dari masyarakat.

Baca Juga :  Heboh di Medsos! Dua PMI Ponorogo Diduga Terdampak Kebakaran Maut di Hong Kong, Disnaker Bergerak Cepat Telusuri Identitas

“Pemilu 2029 akan menjadi salah satu momentum penting untuk menguji sejauh mana ambisi PSI tersebut dapat diterjemahkan menjadi kekuatan elektoral.Sapere Aude! Beranilah berpikir,” pungkas Saiful dalam tulisannya. (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *